Minggu, 21 Desember 2014

GUNUNG SADAHURIP GARUT, MISTERI PIRAMID



Ini ada coret-coret yg saya racik dari berbagai sumber ttg sebuah gunung di Garut Jawa Barat, yg disinyalir sbg gundukan raksasa yg menyimpan sebuah piramid. Semoga bermanfaat.

Gunung Sadahurip (720 m dpl) terletak di sebelah timur Kampung Cicapar, Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan, sedangkan sebelah barat Kampung Sindanggalih, Desa Sindanggalih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut. Lokasi Gunung yang dekat dengan daerah Wanaraja Garut ini, dapat ditempuh melalui Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut.

Gunung di Garut, Jawa Barat itu bernama Sadahurip. Namun, ada juga orang yang menyebutnya dengan Gunung Putri, Gunung Leutik, atau Gunung Cinta. Sebenarnya namanya Gunung Putri, tapi warga di sini mengenal gunung itu Gunung Sadahurip. Warga semula mengira bentuk lancip di puncak Gunung Sadahurip merupakan ciri khas biasa sebuah gunung. Tetapi, setelah ramai muncul di media atas pernyataan dari Tim Katastropik Purba yang menduga Gunung Sadahurip merupakan piramida terbesar di dunia, kini warga mulai geger. Masyarakat lokal bahkan punya sebutan sendiri: Gunung Keramat. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan tanah di sekitarnya sebagai tempat bercocok tanam untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bentuknya tidak biasa, yaitu berbentuk limas persegi empat. Puncaknya mirip bangunan piramida seperti yang ada di Mesir. Gunung Sadahurip atau Gunung Putri kini menjadi buah bibir, gara-gara Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana menemukan anomali. Diduga ada bangunan piramida buatan manusia di dalamnya. Sebutan "gunung piramida" pun sontak populer. Sejauh ini tidak pernah ditemukan situs sebagai indikator yang dapat membuktikan telah terjadi peradaban manusia di masa lampau.

Yang luar biasa, "piramida Garut" diperkirakan lebih besar dan jauh lebih tua dibanding Piramida Giza di Mesir. Sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi. Dibutuhkan proses eskavasi untuk membuktikan kebenarannya. Disebutkan, Gunung Sadahurip yang menyerupai piramida tersebut sudah dilakukan uji geolistrik dan uji karbon oleh BPPT dan PVMBG. Di dalam bukit diyakini terdapat batuan piramida dengan susunan tanah penutup setebal 5 meter dan tertutup batuan. Batu penyusun didalamnya terlihat berongga, mempunyai 4 sisi dan 4 sudut bujursangkar. Karena mirip piramida, ujung atas gunung sangat lancip.

Gunung Sadahurip pernah diteliti Komunitas Turangga Seta, bersamaan dengan penelitian di Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung. Semula penelitian terkait piramida di Sadahurip sudah sempat dilakukan oleh mereka. Untuk Gunung Lalakon tim sejarah Komunitas Turangga sudah akan mulai gali sambil menunggu izin dari Pemkab Bandung. Sedangkan, Sadahurip mereka lepas karena ada tim dari Staff Khusus Kepresidenan RI yang ingin meneliti lebih lanjut. Dari petunjuk dan koordinat yang dimiliki Komunitas Turangga Seta, diyakini pada perut Gunung Sadahurip terdapat piramida. “Tidak perlu ada penelitian ilmiah juga mereka sudah bisa pastikan Gunung Sadahurip itu piramida. Tapi, mereka disuruh melepasnya. Dengan membuktikan kehadiran piramida di Indonesia, maka dapat mencatat sejarah baru dalam kehidupan. “Adanya piramida di nusantara menunjukkan bangsa Indonesia sebagai awalnya dunia.

Gunung Sadahurip sudah berkali-kali diteliti, namun belum ada paparan terkait hasil penelitian berupa peninggalan bersejarah. Sudah berbagai pihak yang datang untuk meneliti, termasuk dari tim luar negeri. Tapi, belum tahu hasilnya. Penelitian Gunung Sadahurip sudah mulai diteliti sejak tahun 2008. Sekitar sebulan lalu, tim peneliti dari LIPI melakukan penyelidikan selama lima hari namun pihak desa belum mendapatkan hasil laporan dari penelitian tersebut. Tim peneliti dari Jakarta juga sempat datang untuk meneliti lempengan gunung tersebut meski belum diketahui hasilnya. Pada bagian puncak gunung kini terdapat dua lubang tanah menganga kedalaman 2 meter dengan diameter 1,5 meter yang digali oleh para peneliti.

Berlokasi di Kecamatan Sukawening, menyusul postur gunung tersebut menyerupai segitiga maupun Piramid, diteliti LIPI dan ITB sejak 29 Nopember lalu. Sedangkan lama penelitiannya, masih belum terdapat batasannya. Gunung berbentuk Piramid tersebut, diduga sudah ada sejak 2500 SM berketinggian 200 meter. Semua proses ilmiah dan berbagai metode yang dimungkinkan dan disyaratkan telah dilakukan di sana. Termasuk georadar dan geolistrik, juga pengujian dengan carbon dating. Hasilnya, "ini bukan alami, melainkan man made". Menggunakan metode Interferometric Syntetic Aperture Radar (IFSAR), Dihasilkan gambar yang benar-benar telanjang. Bisa dilihat, (dari gambar) yang berwarna kuning adalah batu. Sementara warna biru adalah air. Jika disinari, batu akan memantulkan cahaya. Itulah yang ditangkap IFSAR. Sudah pernah dilakukan penggalian tanah hingga lapisan batuannya, cuma beberapa meter saja. Batu itu yang digunakan untuk tes carbon dating. Yang menarik, dari hasil IFSAR bisa dilihat, tak hanya sekedar bentuk piramid. Di sekelilingnya juga nampak batuan, lebih pendek. Bisa jadi itu piramida yang lebih kecil, atau Spinx seperti yang ada di Mesir. Namun, apa persisnya bentuk bangunan dan peradaban mana yang membangunnya, belum bisa dipastikan. Belum dilakukan eskavasi, kalau sudah, bisa bercerita banyak hal. Soal asal muasal, mengapa ada di situ, dan siapa yang membangunnya. Ada historisnya..

Ada temuan fenomenal di lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk lokal. Kami sedang mencoba membongkar pikiran itu, bisa dirasionalkan. Salah satunya, beberapa waktu lalu di sebuah media televisi, Kepala Desa Sukahurip--tempat gunung berada -- menceritakan, ada banyak kilatan petir dan sinar di sekitar gunung. Itu masuk akal, karena mengambil sampel di Mesir, piramida tak hanya sekedar kuburan Firaun, tapi ada teknologi di dalamnya. Teknologi yang maju -- bahkan untuk ukuran masa kini misalnya, teknologi hidro, pembangkit listrik, dan ada medan magnet. Ada juga literatur yang menyebut piramid dibangun untuk mengantisipasi bah.

Di sekitar gunung tidak pernah ditemukan situs peninggalan bersejarah. Namun di kawasan Gunung tersebut, dipercaya warga terdapat unsur mistis yang kuat, seperti keberadaan makam di sekitar puncak gunung yang dikeramatkan warga terkadang dapat dilihat oleh orang tertentu. “Di sana di gunung itu ada makam tapi seperti yang saya bilang tadi kadang terlihat kadang tidak, hanya bisa dilihat oleh orang tertentu secara kebetulan saja,” katanya. Namun di Desa Sukahurip jauh dari kawasan puncak Gunung Sadahurip, terdapat makam keramat bernama Kiancandra atau sering disebut warga mbah Dalem. Sejarahnya bagaimana tentang makam keramat yang ada di sini, para orang terdahulu tidak mau menjelaskannya, tapi katanya ada sejarahnya tertulis di Pamijahan, Wisata Religi di Kabupaten Tasikmalaya.

Tidak hanya masyarakat yang skeptis terhadap temuan tim. Juga beberapa instansi terkait. Mereka kurang peduli. Antara percaya tidak percaya. Padahal semua metode penelitian sudah dilakukan. Ini temuan yang sangat fenomenal. Harusnya kita sadar dan sangat bangga, ada peradaban besar dan tua yang berada di bumi Nusantara.

KOORDINASI ANTAR-INSTANSI
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut berpendapat, kalau ada situs saja itu bisa dikembangkan tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan situs-situs bersejarah. Apabila ditemukan situs atau peninggalan bersejarah atau benda lainnya yang digunakan orang terdahulu, Disbudpar Kabupaten Garut tentu akan berupaya untuk mengembangkannya. Contohnya seperti menemukan prasasti, batu lumpang atau benda kerajaan tentu daerah tersebut pernah ada kehidupan manusia zaman kerajaan atau zaman prasejarah. Kalau di Gunung Sadahurip itu ditemukan situs atau prasasti atau benda bersejarah lainnya, pasti di sana itu ada unsur budaya. Namun dugaan di Gunung Sadahurip yang dikabarkan oleh peneliti terdapat bangunan mirip Piramida seperti di Mesir, Disbudpar Kabupaten Garut belum mengetahuinya.

Sementara sejumlah tim peneliti yang dikabarkan masyarakat setempat pernah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip, Disbudpar tidak pernah mendapatkan laporan atau koordinasi dalam melakukan penelitian. Tidak ada peneliti khusus yang berkoordinasi dengan Disbudpar. Kalau memang ada dari Arkeolog Bandung itu selalu koordinasi, tapi kalau peneliti lain, Disbudpar tidak tahu. Disbudpar berharap tim peneliti yang sudah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip dan menyatakan ada bangunan piramid yang terkubur di gunung tersebut sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada Disbudpar Kabupaten Garut. Kalangan peneliti maupun arkeolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) termasuk staf akhli Presiden RI, mengaku melayangkan surat kegiatan penelitian Piramida Gunung Sadahurip, mereka juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut.

TERINSPIRASI DARI BOSNIA (?)
Kisah penemuan piramida Garut mirip dengan apa yang terjadi di Bosnia tahun 2005 lalu. Sebuah bukit bernama Visocica di Kota Visoko, barat laut Sarajevo, menjadi fokus perhatian dunia. Adalah Semir Osmanagic, peminat arkeolog sekaligus pebisnis, yang menyadari keanehan bentuk puncak bukit setinggi setinggi 213 meter itu pada April 2005.

Setelah serangkaian penggalian dilakukan, dia mengklaim menemukan sejumlah prasasti misterius yang ditulis pada batu. Lantas, setelah beberapa kali dilakukan penggalian, disimpulkan bahwa piramida yang terdapat di bukit tersebut lebih besar dari Piramida Giza di Mesir.

Klaim penemuan kolosal ini dihujani respon dan jadi kontroversi. Para arkeolog mengritik klaim tersebut. Namun, Osmanagic bertahan dengan pendapatnya. "Mereka hanya cemburu," kata dia kepada situs sains, LiveScience. "Orang-orang kelabakan, karena mereka terlanjur mengajarkan pada murid bahwa Bosnia adalah orang gua (primitif). Kemudian tiba-tiba ada penemuan struktur kompleks di sini." Di tengah pandangan miring para ilmuwan, penggalian terus dilakukan. Perkembangannya bisa dipantau di situs Bosnian Pyramid.

BUKAN BUATAN MANUSIA (?)
Memakai citra kontur Google Map, didapati bentuk dasar gunung berupa bidang segilima tak simetris sehingga luas tiap sisinya tak sama.

Pengamatan dimulai dari kontur elevasi (ketinggian gunung) 1.320 meter dari permukaan laut hingga ke puncak. Bentuk sisi gunung yang tak rata itu juga berpengaruh ke sistem azimut arah mata angin primer yang ditandai 0 atau 360 untuk arah utara, 90 untuk arah timur, 180 di selatan, dan 270 di barat. Sedangkan arah mata angin sekunder berada di antara mata angin primer.

Dari perhitungan mulai dari arah utara kemudian memutar searah jarum jam, tiap sisi Gunung Sadahurip ternyata menghadap ke arah 68, 143, 220, 284, dan arah 344. Walaupun sudah membagi azimut 360 dengan angka 5 sesuai jumlah sisi gunung, selisih sudut tiap sisi tak pas 72 derajat, melainkan beragam antara 60-77 derajat.

Benda langit apa yang dihadapi tiap sisi Gunung Sadahurip menjadi tak jelas. Dari kedua fakta berbeda itu, disimpulkan, jika gunung itu buatan manusia yang membangun piramida, pembuatnya berarti tak paham geometri sehingga gagal merancang dasar piramida yang simetris. Kedua, para pembuatnya tak paham astronomi sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.

SEJUMLAH SANGGAHAN
Beragam pendapat muncul. Kalangan arkeolog dan geolog membantah penemuan tersebut. Kalangan geolog mengatakan bahwa Gunung Sadahurip sejatinya merupakan gunung berapi yang kini sudah mati. Sementara kalangan arkeolog menyatakan bahwa keberadaan piramida tidak mungkin jika tak ditemukan jejak pemukiman di sekitarnya. Di lain pihak, tim penemu tetap yakin bahwa klaimnya adalah benar.

Analisis dari sudut pandang astronomi mengatakan bahwa pembangunan piramida akan selalu menghadap ke titik-titik istimewa di langit. Prinsip ini tidak hanya dianut oleh piramida di Mesir, tetapi juga bangunan mirip piramida yang ada di Indonesia, seperti Candi Borobudur, candi utama di Prambanan hingga candi-candi di Jawa Timur.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mata angin dengan presisi demikian tinggi.

Contohnya, bangunan Piramida Giza selalu menuju ke arah utara, selatan, timur dan barat dengan presisi tinggi. Presisi itu diupayakan agar sisi utara Giza selalu menghadap ke bintang Thuban atau Alpha Draconis, bintang utara kutub utara langit pada 4500 tahun lalu. Bintang tersebut akan tampak dengan magnitud +3,7, cukup redup sebenarnya.

"Sebagai bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno. Sehingga sebuah lorong kecil dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun.

Di dekat bintang Thuban, terdapat bintang Kochab atau beta Ursa Minor. Bintang ini selalu tampak di langit utara seakan-akan berputar mengelilingi Thuban, seolah-olah pasangan setia Thuban. Lorong pun dibangun untuk memungkinkan cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di atas ruang Firaun, khususnya saat bintang berkulminasi atas.

Bangsa Mesir Kuno juga sangat terpesona pada rasi Waluku atau Orion yang dianggap sebagai wujud Osiris. Sebuah lorong pun dibangun agar cahaya dari bintang di rasi Waluku bisa menyinari jasa Firaun. Bintang Sirius, salah satu bintang paling terang, juga dianggap sebagai wujud Isis. Lorong juga dibangun agar cahaya bintang ini menyinari jasad permaisuri.

Jika dilihat bangunan mirip piramida di tanah air, seluruhnya pun menghadap ke arah mata angin. Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mata angin utama dengan presisi mengagumkan. Demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks percandian Prambanan.

Di candi Borobudur, presisi diupayakan sebab selain sebagai bangunan religius, candi juga diupayakan sebagai petunjuk pisisi Matahari dan siklus musim. Hal yang sama juga mungkin berlaku di Prambanan. "Sehingga, dalam perspektif astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit.

Prinsip-prinsip astronomis itulah yang tidak ditemukan di Piramida Sadahurip. Berdasarkan analisis citra Google Earth, Gunung Sadahurip memiliki bentuk dasar segilima tak simetris. Adanya piramida bentuk segilima memang mungkin walaupun belum pernah ditemukan. Meski demikian, segilima yang menjadi dasar bentuk seharusnya juga simetris.

Akibat ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun tidak simetris. Diawali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68, arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat.

Dalam astronomi, arah mata angin dikuantifikasi dalam sudut berjumlah 360 derajat atau lingkaran. Arah utara adalah atau 360 derajat, timur 90 derajat, selatan 180 derajat dan barat 270 derajat. Sadahurip sama sekali tidak menghadap ke sudut itu. Selain itu, akibat tak simetris, selisih antar sudut juga tak sesuai. Jika bentuk dasar segilima, selisih antar sudut seharusnya 72 derajat.

Sisi yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu, yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan satu sisi gunung Sadahurip sekalipun.

Jika Piramida Sadahurip benar, maka ada dua kemungkinan. Pertama, para pembangun piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan candinya. Kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi. Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar