Ini ada
coret-coret yg saya racik dari berbagai sumber ttg sebuah gunung di Garut Jawa
Barat, yg disinyalir sbg gundukan raksasa yg menyimpan sebuah piramid. Semoga
bermanfaat.
Gunung
Sadahurip (720 m dpl) terletak di sebelah timur Kampung Cicapar, Desa Sukahurip
Kecamatan Pangatikan, sedangkan sebelah barat Kampung Sindanggalih, Desa
Sindanggalih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut. Lokasi Gunung yang dekat
dengan daerah Wanaraja Garut ini, dapat ditempuh melalui Desa Sukahurip
Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut.
Gunung
di Garut, Jawa Barat itu bernama Sadahurip. Namun, ada juga orang yang
menyebutnya dengan Gunung Putri, Gunung Leutik, atau Gunung Cinta. Sebenarnya
namanya Gunung Putri, tapi warga di sini mengenal gunung itu Gunung Sadahurip.
Warga semula mengira bentuk lancip di puncak Gunung Sadahurip merupakan ciri
khas biasa sebuah gunung. Tetapi, setelah ramai muncul di media atas pernyataan
dari Tim Katastropik Purba yang menduga Gunung Sadahurip merupakan piramida
terbesar di dunia, kini warga mulai geger. Masyarakat lokal bahkan punya
sebutan sendiri: Gunung Keramat. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan tanah
di sekitarnya sebagai tempat bercocok tanam untuk kehidupan masyarakat
sehari-hari.
Bentuknya
tidak biasa, yaitu berbentuk limas persegi empat. Puncaknya mirip bangunan
piramida seperti yang ada di Mesir. Gunung Sadahurip atau Gunung Putri kini
menjadi buah bibir, gara-gara Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk
Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana menemukan
anomali. Diduga ada bangunan piramida buatan manusia di dalamnya. Sebutan
"gunung piramida" pun sontak populer. Sejauh ini tidak pernah
ditemukan situs sebagai indikator yang dapat membuktikan telah terjadi
peradaban manusia di masa lampau.
Yang
luar biasa, "piramida Garut" diperkirakan lebih besar dan jauh lebih
tua dibanding Piramida Giza di Mesir. Sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi.
Dibutuhkan proses eskavasi untuk membuktikan kebenarannya. Disebutkan, Gunung
Sadahurip yang menyerupai piramida tersebut sudah dilakukan uji geolistrik dan
uji karbon oleh BPPT dan PVMBG. Di dalam bukit diyakini terdapat batuan
piramida dengan susunan tanah penutup setebal 5 meter dan tertutup batuan. Batu
penyusun didalamnya terlihat berongga, mempunyai 4 sisi dan 4 sudut
bujursangkar. Karena mirip piramida, ujung atas gunung sangat lancip.
Gunung
Sadahurip pernah diteliti Komunitas Turangga Seta, bersamaan dengan penelitian
di Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung. Semula penelitian terkait piramida di
Sadahurip sudah sempat dilakukan oleh mereka. Untuk Gunung Lalakon tim sejarah
Komunitas Turangga sudah akan mulai gali sambil menunggu izin dari Pemkab
Bandung. Sedangkan, Sadahurip mereka lepas karena ada tim dari Staff Khusus
Kepresidenan RI yang ingin meneliti lebih lanjut. Dari petunjuk dan koordinat
yang dimiliki Komunitas Turangga Seta, diyakini pada perut Gunung Sadahurip
terdapat piramida. “Tidak perlu ada penelitian ilmiah juga mereka sudah bisa
pastikan Gunung Sadahurip itu piramida. Tapi, mereka disuruh melepasnya. Dengan
membuktikan kehadiran piramida di Indonesia, maka dapat mencatat sejarah baru
dalam kehidupan. “Adanya piramida di nusantara menunjukkan bangsa Indonesia
sebagai awalnya dunia.
Gunung
Sadahurip sudah berkali-kali diteliti, namun belum ada paparan terkait hasil
penelitian berupa peninggalan bersejarah. Sudah berbagai pihak yang datang
untuk meneliti, termasuk dari tim luar negeri. Tapi, belum tahu hasilnya.
Penelitian Gunung Sadahurip sudah mulai diteliti sejak tahun 2008. Sekitar
sebulan lalu, tim peneliti dari LIPI melakukan penyelidikan selama lima hari
namun pihak desa belum mendapatkan hasil laporan dari penelitian tersebut. Tim
peneliti dari Jakarta juga sempat datang untuk meneliti lempengan gunung
tersebut meski belum diketahui hasilnya. Pada bagian puncak gunung kini
terdapat dua lubang tanah menganga kedalaman 2 meter dengan diameter 1,5 meter
yang digali oleh para peneliti.
Berlokasi
di Kecamatan Sukawening, menyusul postur gunung tersebut menyerupai segitiga
maupun Piramid, diteliti LIPI dan ITB sejak 29 Nopember lalu. Sedangkan lama
penelitiannya, masih belum terdapat batasannya. Gunung berbentuk Piramid
tersebut, diduga sudah ada sejak 2500 SM berketinggian 200 meter. Semua proses
ilmiah dan berbagai metode yang dimungkinkan dan disyaratkan telah dilakukan di
sana. Termasuk georadar dan geolistrik, juga pengujian dengan carbon dating.
Hasilnya, "ini bukan alami, melainkan man made". Menggunakan metode Interferometric
Syntetic Aperture Radar (IFSAR), Dihasilkan gambar yang benar-benar telanjang.
Bisa dilihat, (dari gambar) yang berwarna kuning adalah batu. Sementara warna
biru adalah air. Jika disinari, batu akan memantulkan cahaya. Itulah yang
ditangkap IFSAR. Sudah pernah dilakukan penggalian tanah hingga lapisan
batuannya, cuma beberapa meter saja. Batu itu yang digunakan untuk tes carbon
dating. Yang menarik, dari hasil IFSAR bisa dilihat, tak hanya sekedar bentuk
piramid. Di sekelilingnya juga nampak batuan, lebih pendek. Bisa jadi itu
piramida yang lebih kecil, atau Spinx seperti yang ada di Mesir. Namun, apa
persisnya bentuk bangunan dan peradaban mana yang membangunnya, belum bisa
dipastikan. Belum dilakukan eskavasi, kalau sudah, bisa bercerita banyak hal. Soal
asal muasal, mengapa ada di situ, dan siapa yang membangunnya. Ada
historisnya..
Ada
temuan fenomenal di lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk lokal. Kami sedang
mencoba membongkar pikiran itu, bisa dirasionalkan. Salah satunya, beberapa
waktu lalu di sebuah media televisi, Kepala Desa Sukahurip--tempat gunung
berada -- menceritakan, ada banyak kilatan petir dan sinar di sekitar gunung.
Itu masuk akal, karena mengambil sampel di Mesir, piramida tak hanya sekedar
kuburan Firaun, tapi ada teknologi di dalamnya. Teknologi yang maju -- bahkan
untuk ukuran masa kini misalnya, teknologi hidro, pembangkit listrik, dan ada
medan magnet. Ada juga literatur yang menyebut piramid dibangun untuk
mengantisipasi bah.
Di
sekitar gunung tidak pernah ditemukan situs peninggalan bersejarah. Namun di
kawasan Gunung tersebut, dipercaya warga terdapat unsur mistis yang kuat,
seperti keberadaan makam di sekitar puncak gunung yang dikeramatkan warga
terkadang dapat dilihat oleh orang tertentu. “Di sana di gunung itu ada makam tapi
seperti yang saya bilang tadi kadang terlihat kadang tidak, hanya bisa dilihat
oleh orang tertentu secara kebetulan saja,” katanya. Namun di Desa Sukahurip
jauh dari kawasan puncak Gunung Sadahurip, terdapat makam keramat bernama
Kiancandra atau sering disebut warga mbah Dalem. Sejarahnya bagaimana tentang
makam keramat yang ada di sini, para orang terdahulu tidak mau menjelaskannya,
tapi katanya ada sejarahnya tertulis di Pamijahan, Wisata Religi di Kabupaten
Tasikmalaya.
Tidak
hanya masyarakat yang skeptis terhadap temuan tim. Juga beberapa instansi
terkait. Mereka kurang peduli. Antara percaya tidak percaya. Padahal semua
metode penelitian sudah dilakukan. Ini temuan yang sangat fenomenal. Harusnya
kita sadar dan sangat bangga, ada peradaban besar dan tua yang berada di bumi
Nusantara.
KOORDINASI
ANTAR-INSTANSI
Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut berpendapat, kalau ada
situs saja itu bisa dikembangkan tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan
situs-situs bersejarah. Apabila ditemukan situs atau peninggalan bersejarah
atau benda lainnya yang digunakan orang terdahulu, Disbudpar Kabupaten Garut
tentu akan berupaya untuk mengembangkannya. Contohnya seperti menemukan
prasasti, batu lumpang atau benda kerajaan tentu daerah tersebut pernah ada
kehidupan manusia zaman kerajaan atau zaman prasejarah. Kalau di Gunung
Sadahurip itu ditemukan situs atau prasasti atau benda bersejarah lainnya,
pasti di sana itu ada unsur budaya. Namun dugaan di Gunung Sadahurip yang
dikabarkan oleh peneliti terdapat bangunan mirip Piramida seperti di Mesir,
Disbudpar Kabupaten Garut belum mengetahuinya.
Sementara
sejumlah tim peneliti yang dikabarkan masyarakat setempat pernah melakukan
penelitian di Gunung Sadahurip, Disbudpar tidak pernah mendapatkan laporan atau
koordinasi dalam melakukan penelitian. Tidak ada peneliti khusus yang
berkoordinasi dengan Disbudpar. Kalau memang ada dari Arkeolog Bandung itu
selalu koordinasi, tapi kalau peneliti lain, Disbudpar tidak tahu. Disbudpar
berharap tim peneliti yang sudah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip dan
menyatakan ada bangunan piramid yang terkubur di gunung tersebut sebaiknya
memberitahukan terlebih dahulu kepada Disbudpar Kabupaten Garut. Kalangan
peneliti maupun arkeolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan
Institut Teknologi Bandung (ITB) termasuk staf akhli Presiden RI, mengaku
melayangkan surat kegiatan penelitian Piramida Gunung Sadahurip, mereka juga
berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut.
TERINSPIRASI
DARI BOSNIA (?)
Kisah
penemuan piramida Garut mirip dengan apa yang terjadi di Bosnia tahun 2005
lalu. Sebuah bukit bernama Visocica di Kota Visoko, barat laut Sarajevo,
menjadi fokus perhatian dunia. Adalah Semir Osmanagic, peminat arkeolog
sekaligus pebisnis, yang menyadari keanehan bentuk puncak bukit setinggi
setinggi 213 meter itu pada April 2005.
Setelah
serangkaian penggalian dilakukan, dia mengklaim menemukan sejumlah prasasti
misterius yang ditulis pada batu. Lantas, setelah beberapa kali dilakukan
penggalian, disimpulkan bahwa piramida yang terdapat di bukit tersebut lebih
besar dari Piramida Giza di Mesir.
Klaim
penemuan kolosal ini dihujani respon dan jadi kontroversi. Para arkeolog
mengritik klaim tersebut. Namun, Osmanagic bertahan dengan pendapatnya.
"Mereka hanya cemburu," kata dia kepada situs sains, LiveScience.
"Orang-orang kelabakan, karena mereka terlanjur mengajarkan pada murid
bahwa Bosnia adalah orang gua (primitif). Kemudian tiba-tiba ada penemuan
struktur kompleks di sini." Di tengah pandangan miring para ilmuwan,
penggalian terus dilakukan. Perkembangannya bisa dipantau di situs Bosnian
Pyramid.
BUKAN
BUATAN MANUSIA (?)
Memakai
citra kontur Google Map, didapati bentuk dasar gunung berupa bidang segilima
tak simetris sehingga luas tiap sisinya tak sama.
Pengamatan
dimulai dari kontur elevasi (ketinggian gunung) 1.320 meter dari permukaan laut
hingga ke puncak. Bentuk sisi gunung yang tak rata itu juga berpengaruh ke
sistem azimut arah mata angin primer yang ditandai 0 atau 360 untuk arah utara,
90 untuk arah timur, 180 di selatan, dan 270 di barat. Sedangkan arah mata
angin sekunder berada di antara mata angin primer.
Dari
perhitungan mulai dari arah utara kemudian memutar searah jarum jam, tiap sisi
Gunung Sadahurip ternyata menghadap ke arah 68, 143, 220, 284, dan arah 344.
Walaupun sudah membagi azimut 360 dengan angka 5 sesuai jumlah sisi gunung,
selisih sudut tiap sisi tak pas 72 derajat, melainkan beragam antara 60-77
derajat.
Benda
langit apa yang dihadapi tiap sisi Gunung Sadahurip menjadi tak jelas. Dari
kedua fakta berbeda itu, disimpulkan, jika gunung itu buatan manusia yang
membangun piramida, pembuatnya berarti tak paham geometri sehingga gagal
merancang dasar piramida yang simetris. Kedua, para pembuatnya tak paham
astronomi sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa
langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.
SEJUMLAH
SANGGAHAN
Beragam
pendapat muncul. Kalangan arkeolog dan geolog membantah penemuan tersebut.
Kalangan geolog mengatakan bahwa Gunung Sadahurip sejatinya merupakan gunung
berapi yang kini sudah mati. Sementara kalangan arkeolog menyatakan bahwa
keberadaan piramida tidak mungkin jika tak ditemukan jejak pemukiman di sekitarnya.
Di lain pihak, tim penemu tetap yakin bahwa klaimnya adalah benar.
Analisis
dari sudut pandang astronomi mengatakan bahwa pembangunan piramida akan selalu
menghadap ke titik-titik istimewa di langit. Prinsip ini tidak hanya dianut
oleh piramida di Mesir, tetapi juga bangunan mirip piramida yang ada di
Indonesia, seperti Candi Borobudur, candi utama di Prambanan hingga candi-candi
di Jawa Timur.
Hal
ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut,
yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap
saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida
atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mata angin
dengan presisi demikian tinggi.
Contohnya,
bangunan Piramida Giza selalu menuju ke arah utara, selatan, timur dan barat
dengan presisi tinggi. Presisi itu diupayakan agar sisi utara Giza selalu
menghadap ke bintang Thuban atau Alpha Draconis, bintang utara kutub utara
langit pada 4500 tahun lalu. Bintang tersebut akan tampak dengan magnitud +3,7,
cukup redup sebenarnya.
"Sebagai
bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa
pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya
sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno. Sehingga sebuah lorong kecil
dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang
memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun.
Di
dekat bintang Thuban, terdapat bintang Kochab atau beta Ursa Minor. Bintang ini
selalu tampak di langit utara seakan-akan berputar mengelilingi Thuban,
seolah-olah pasangan setia Thuban. Lorong pun dibangun untuk memungkinkan
cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di atas
ruang Firaun, khususnya saat bintang berkulminasi atas.
Bangsa
Mesir Kuno juga sangat terpesona pada rasi Waluku atau Orion yang dianggap
sebagai wujud Osiris. Sebuah lorong pun dibangun agar cahaya dari bintang di
rasi Waluku bisa menyinari jasa Firaun. Bintang Sirius, salah satu bintang
paling terang, juga dianggap sebagai wujud Isis. Lorong juga dibangun agar
cahaya bintang ini menyinari jasad permaisuri.
Jika
dilihat bangunan mirip piramida di tanah air, seluruhnya pun menghadap ke arah
mata angin. Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mata angin utama dengan
presisi mengagumkan. Demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks
percandian Prambanan.
Di
candi Borobudur, presisi diupayakan sebab selain sebagai bangunan religius,
candi juga diupayakan sebagai petunjuk pisisi Matahari dan siklus musim. Hal
yang sama juga mungkin berlaku di Prambanan. "Sehingga, dalam perspektif
astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan
observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit.
Prinsip-prinsip
astronomis itulah yang tidak ditemukan di Piramida Sadahurip. Berdasarkan
analisis citra Google Earth, Gunung Sadahurip memiliki bentuk dasar segilima
tak simetris. Adanya piramida bentuk segilima memang mungkin walaupun belum
pernah ditemukan. Meski demikian, segilima yang menjadi dasar bentuk seharusnya
juga simetris.
Akibat
ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun
tidak simetris. Diawali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68,
arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan
sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin
sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari
yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat.
Dalam
astronomi, arah mata angin dikuantifikasi dalam sudut berjumlah 360 derajat
atau lingkaran. Arah utara adalah atau 360 derajat, timur 90 derajat, selatan
180 derajat dan barat 270 derajat. Sadahurip sama sekali tidak menghadap ke
sudut itu. Selain itu, akibat tak simetris, selisih antar sudut juga tak
sesuai. Jika bentuk dasar segilima, selisih antar sudut seharusnya 72 derajat.
Sisi
yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit
saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu,
yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian
pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter
solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan
satu sisi gunung Sadahurip sekalipun.
Jika
Piramida Sadahurip benar, maka ada dua kemungkinan. Pertama, para pembangun
piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar
piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa
kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan
candinya. Kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi.
Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang
penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar