Sabtu, 20 Desember 2014

GOYANG KARAWANG, ANTARA EROTISME, KHASANAH BUDAYA KARAWANG DAN REVOLUSI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA


Ini adalah versi lebih lengkap dari artikel yang saya kirim sebelumnya. Saya yakin, ini akan membuka paradigma berpikir kita. Terutama dalam memahami fenomena-fenomena dari idiom-idiom yang bertendensi negatif seputar kesenian lokal di sekitar kita.
Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran saya pada malam hari tanggal 31 Desember 2013, sampai dini hari tanggal 1 Januari 2014.
Semoga bermanfaat.
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.
Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.
Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan.
Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
PENELUSURAN
Dari hasil penelusuran di Karawang, ditemukan pemaknaan yang lebih dalam lagi tentang GOYANG KARAWANG. Berawal dari seni tari TOPENG BANJET, kemudian banyak gerakan tarian yang indah, energik dan ritmik yang diadaptasikan ke berbagai gerakan tari yang ada sekarang ini.
TOPENG BANJET adalah kesenian yang memadukan unsur tarian, komedi dan sandiwara dalam satu kemasan. Diiringi oleh music tradisional, seni ini begitu popular selama masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Masa itu, nyaris tidak ada kesenian yang bisa menggantikan TOPENG BANJET di pesisir utara Jawa Barat, terutama Karawang. Pasalnya media masa saat itu sangat terbatas. Masyarakat tidak memiliki akses untuk menikmati hiburan seperti tonil, bioskop dan drama yang digelar di gedung-gedung kesenian besar di Kota. Masyarakat juga tidak mungkin menghabiskan waktu bepergian untuk mencapai gedung kesenian itu yang notabene berada di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta.
TOPENG BANJET adalah jawaban atas kebutuhan hiburan massa saat itu. Pertama dipagelarkan secara besar-besaran. Kedua tidak da pengorbanan untuk menikmatinya. Ketiga secara kultur sangat dekat dengan masyarakat Karawang. Kesenian ini erat kaitannya dengan kultur agraris, di mana kebiasaan aktivitas rakyat untuk bertani di siang hari dan istirahat sejak memasuki senja. Maka kesenian ini digelar kebanyakan pada malam hari.
TOPENG BANJET kemudian menjadi begitu mengemuka saat memasuki era REVOLUSI KEMERDEKAAN. Pertama dengan kesenian ini masyarakat bisa berkumpul. Dengan berkumpul ada transfer informasi. Dengan begitu memudahkan dalam transfer pemikiran. Dengan kekuatan daya pikatnya, dalam waktu relative singkat, kesian ini ikut menyuburkan semangat pembangunan berkat penghiburannya pada masyarakat. Secara tidak disadari, psikologi masyarakat akan semangat kerja terbangun, karena ada estimasi waktu bagi mereka untuk menikmati hiburan Cuma-Cuma.
Pada akhirnya topeng banjet ini terus dikembangkan dan diadaptasikan ke dalam berbagai bentuk kesenian tari. Salah satunya adalah jaipongan, yang banyak berkembang di Jawa Barat bagian tengah. Sampai kesenian ini begitu popular dengan goyangannya. Asosiasi yang ada pada waktu itu adalah bahwa goyang karawang selalu rapat dengan kesenian tari dari Karawang. Bukan kesenian yang dekat dengan erotisme. Goyang karawang adalah interpretasi budaya dalam semangat pembangunan pasca Revolusi Kemerdekaan. Berkat penghiburannya, Karawang menjadi salah satu lumbung padi Pulau Jawa. Sedikit banyak kesenian ini merapat pada kultur agrarsi, seperti yang disampaikan di atas.
UNSUR MISTIS tidak bisa terlepas dari kesenian ini. Ada ritual dan persembahan yang terbagi atas beberapa bagian. Pertama persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kedua persembahan pada Karuhun atau leluhur. Ketiga persembahan pada arwah sekitar tempat pertunjukan. Persembahan ini diinterpretasikan dalam bentuk sesajen dan perlengkapannnya. Persembahan ini juga dituturkan dalam doa dan mantra khusus yang dirapalkan oleh Tetua Pertunjukan atau Pawang. Keahlian dan kemampuan ini bersifat khusus. Artinya tidak sembarang orang bisa melakukan. Ada keyakinan filosofis yang terkendung di dalam persembahan ini. Pertama Puja dan Puji Syukur ke Hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat sehat dan iman. Sehingga kesenian ini bisa bertahan dan dipagelarkan. Kedua adalah penghormatan pada arwah leluhur, karena berkat leluhurlah kesenian ini diwariskan sebagai wasilah atau perantaraan pewarisan semua unsurnya. Ketiga adalah penghormatan pada arwah setempat, karena pagelaran ini digelar di tempat terkait.
PENURUNAN PEMAKNAAN GOYANG KARAWANG
Saat ini asosiasi masyarakat terhadap istilah Goyang Karawang selalu bertendensi pada erotisme. Hal itu dimungkinkan mengingat begitu banyaknya praktik pertunjukkan seni hiburan yang banyak menonjolkan erotisme dan sensualitas berlebih. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang digelar berupa konser music dangdut. Di mana di dalamnya sangat sarat akan pengadopsian gerakan-gerakan tarian jaipong atau banjet yang sudah sedemikian rupa dimodifikasi. Pada tataran ini unsur mistik dan ritual sudah tidak diindahkan. Bahkan sudah tidak menjadi prioritas. Tidak ada pakem khusus yang mengendalikan. Perpaduan antara seni pertunjukan modern dan tradisional begitu luar biasa. Tidak ada batasan antara pelaku seni dan penikmat seni. Semua terlibat dalam pertunjukan. Semua bebas mengekspresikan dirinya. Tidak jarang idiom-idiom “nakal” menjadi penyedap pertunjukan, yang banyak menjadi bagian dalam lirik lagu-lagu dangdut pop. Tidak cukup sampai di situ. Penyerapan unsur kesenian dandut modern juga terjadi pada kesenian jaipong. Saling pengaruh dan “memperkaya” ini menjadi kecenderungan yang tidak bisa dihindari dan tidak terpisahkan dalam kultur masyarakat kontemporer di Pesisir Utara Jawa Barat, terutama Karawang.
Kondisi di atas begitu dominan, sehingga menyita pemikiran masyarakat. Paradigma yang sudah terlanjur jungkir balik ini diperparah lagi dengan cara generasi muda Karawang dalam mengidentifikasi produk kebudayaan mereka. Sangat jarang pemuda Karawang dan sekitarnya yang bisa langsung menangkap maksud sesungguhnya dari istilah “Goyang karawang”. Bahkan mereka langsung mengidentikannya dengan pemahaman umum yang ada saat ini. Goyang Karawang adalah erotisme rendah dan sensualitas berlebih dari para pelaku seni di atas panggung pertunjukan. Goyang Karawang yang sesungguhnya, yaitu suatu semangat dan gairah pembangunan masyarakat kota melalui stimulus seni tradisional lokal yang dekat dan akrab dengan keseharian dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi lokal. Semua pemahaman dasar yang seharusnya diwariskan tersebut kini gagal diserap. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa masyarakat Karawang khususnya atau Indonesia umumnya yang lalai terhadap akar budaya lokal.
Permasalahan tampaknya bagai bergulirnya bola salju yang terus membesar. Kini kelompok-kelompok pelaku seni tradisional lokal mengalami kondisi yang memprihatinkan. Paling tidak, itu yang dialami sebagian besar dari para pelaku kesenian tradisional Karawang. Penurunan intensitas pertunjukan dan berkurangnya minat masyarakat terhadap pertunjukan ini menjadi faktor utama. Selain itu sedikitnya kaderisasi menjadi masalah lainnya yang siap menerkam kesenian seperti Topeng Banjet. Kurang memikatnya kesenian ini di mata generasi penerus bisa jadi mempengaruhi pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang muncul pertanyaan apakah masih relevan mempelajari kesenian ini, mengingat publikasi yang sangat sedikit dan manfaat yang sangat jarang. Dengan kata lain, sebenarnya para generasi penerus berada pada persilang pemikiran. Mereka bertanya, beri kami alas an untuk mempelajari kesenian tradisional.
Pemerintah Karawang jelas seharusnya mengambil peran strategis. Baik sebagai penyangga kesenian mapun penyandang kesenian. Penyangga, dalam hal ini adalah sebagai pihak yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan kesenian. Penyandang, dalam hal ini adalah penyedia fasilitas dan dana yang bisa memberi kemudahan dalam ruang gerak, akses dan aktivitas para pelaku seni. Pemerintah setempat juga seharusnya bisa memberikan pencerahan dan publikasi yang memadai tentang berbagai produk budaya local. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengidentifikasi budaya mereka. Masyarakat juga bisa mengakses informasi resmi dengan mudah. Sehingga semua berjalan secara simultan.
Masih belum lengkap kalau belum memasukkan seni hiburan modern. Unsur ini jelas banyak memberi sumbangan yang bagai pisau bermata dua. Publikasi yang luar biasa beberapa tahun ini tentang goyang karawang jelas membawa kesenian ini sebagai fenomena. Sebut saja film layar lebar ARWAH GOYANG KARAWANG. Cerita dalam film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenian dan nilai-nilai luhur kebudayaan warisan leluhur Karawang. Sempat menjadi titik keresahan para pelaku seni Karawang, sehingga menimbulkan protes yang cukup serius. Tapi film ini tetap mengemuka dan masyarakat tetap menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan film horror-erotis. Belum lagi peranan kelompok-kelompok seni pertunjukan local yang turut membawa-bawa istilah Goyang Karawang dengan berbagai variasinya, juga turut memberi sumbangan atas penurunan pemaknaan.

Alhasil tentu saja penurunan pemaknaan terhadap istilah Goyang Karawang ini tidak bisa dihindarkan. Paling banter orang akan merapatkan Goyang Karawang dengan susuk, ritual sesajen dan aktivitas mistis yang tidak ada kaitannya dengan nilai luhur kesenian lokal sebagai produk budaya dan pemikiran nenek moyang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar