Ini
adalah versi lebih lengkap dari artikel yang saya kirim sebelumnya. Saya yakin,
ini akan membuka paradigma berpikir kita. Terutama dalam memahami
fenomena-fenomena dari idiom-idiom yang bertendensi negatif seputar kesenian
lokal di sekitar kita.
Artikel
ini disusun berdasarkan penelusuran saya pada malam hari tanggal 31 Desember
2013, sampai dini hari tanggal 1 Januari 2014.
Semoga
bermanfaat.
Karya
Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun
Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan
jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul
beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli
Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi
perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.
Namun
dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat,
apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun
pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi
pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang
diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran Jaipongan
memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk
lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.
Dengan
munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk
menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha
pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut
peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha
pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah
wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya
"kaleran" (utara).
Ciri
khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat,
spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam
pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola)
seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang
tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang.
Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah
Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1)
Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing
Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang
sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5)
Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton
(bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan
sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan
selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum
Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng,
Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten.
Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara
lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira
Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa
ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa
Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan
tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan
pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca
negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan.
Tari
Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat
Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan,
kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut
modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan
yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
PENELUSURAN
Dari
hasil penelusuran di Karawang, ditemukan pemaknaan yang lebih dalam lagi
tentang GOYANG KARAWANG. Berawal dari seni tari TOPENG BANJET, kemudian banyak
gerakan tarian yang indah, energik dan ritmik yang diadaptasikan ke berbagai
gerakan tari yang ada sekarang ini.
TOPENG
BANJET adalah kesenian yang memadukan unsur tarian, komedi dan sandiwara dalam
satu kemasan. Diiringi oleh music tradisional, seni ini begitu popular selama
masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Masa itu, nyaris tidak ada kesenian
yang bisa menggantikan TOPENG BANJET di pesisir utara Jawa Barat, terutama
Karawang. Pasalnya media masa saat itu sangat terbatas. Masyarakat tidak
memiliki akses untuk menikmati hiburan seperti tonil, bioskop dan drama yang
digelar di gedung-gedung kesenian besar di Kota. Masyarakat juga tidak mungkin
menghabiskan waktu bepergian untuk mencapai gedung kesenian itu yang notabene
berada di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta.
TOPENG
BANJET adalah jawaban atas kebutuhan hiburan massa saat itu. Pertama
dipagelarkan secara besar-besaran. Kedua tidak da pengorbanan untuk
menikmatinya. Ketiga secara kultur sangat dekat dengan masyarakat Karawang.
Kesenian ini erat kaitannya dengan kultur agraris, di mana kebiasaan aktivitas
rakyat untuk bertani di siang hari dan istirahat sejak memasuki senja. Maka
kesenian ini digelar kebanyakan pada malam hari.
TOPENG
BANJET kemudian menjadi begitu mengemuka saat memasuki era REVOLUSI
KEMERDEKAAN. Pertama dengan kesenian ini masyarakat bisa berkumpul. Dengan
berkumpul ada transfer informasi. Dengan begitu memudahkan dalam transfer
pemikiran. Dengan kekuatan daya pikatnya, dalam waktu relative singkat, kesian
ini ikut menyuburkan semangat pembangunan berkat penghiburannya pada
masyarakat. Secara tidak disadari, psikologi masyarakat akan semangat kerja
terbangun, karena ada estimasi waktu bagi mereka untuk menikmati hiburan
Cuma-Cuma.
Pada
akhirnya topeng banjet ini terus dikembangkan dan diadaptasikan ke dalam
berbagai bentuk kesenian tari. Salah satunya adalah jaipongan, yang banyak
berkembang di Jawa Barat bagian tengah. Sampai kesenian ini begitu popular
dengan goyangannya. Asosiasi yang ada pada waktu itu adalah bahwa goyang
karawang selalu rapat dengan kesenian tari dari Karawang. Bukan kesenian yang
dekat dengan erotisme. Goyang karawang adalah interpretasi budaya dalam
semangat pembangunan pasca Revolusi Kemerdekaan. Berkat penghiburannya,
Karawang menjadi salah satu lumbung padi Pulau Jawa. Sedikit banyak kesenian
ini merapat pada kultur agrarsi, seperti yang disampaikan di atas.
UNSUR
MISTIS tidak bisa terlepas dari kesenian ini. Ada ritual dan persembahan yang
terbagi atas beberapa bagian. Pertama persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kedua
persembahan pada Karuhun atau leluhur. Ketiga persembahan pada arwah sekitar
tempat pertunjukan. Persembahan ini diinterpretasikan dalam bentuk sesajen dan
perlengkapannnya. Persembahan ini juga dituturkan dalam doa dan mantra khusus
yang dirapalkan oleh Tetua Pertunjukan atau Pawang. Keahlian dan kemampuan ini
bersifat khusus. Artinya tidak sembarang orang bisa melakukan. Ada keyakinan
filosofis yang terkendung di dalam persembahan ini. Pertama Puja dan Puji
Syukur ke Hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat sehat dan iman. Sehingga
kesenian ini bisa bertahan dan dipagelarkan. Kedua adalah penghormatan pada
arwah leluhur, karena berkat leluhurlah kesenian ini diwariskan sebagai wasilah
atau perantaraan pewarisan semua unsurnya. Ketiga adalah penghormatan pada
arwah setempat, karena pagelaran ini digelar di tempat terkait.
PENURUNAN
PEMAKNAAN GOYANG KARAWANG
Saat
ini asosiasi masyarakat terhadap istilah Goyang Karawang selalu bertendensi
pada erotisme. Hal itu dimungkinkan mengingat begitu banyaknya praktik
pertunjukkan seni hiburan yang banyak menonjolkan erotisme dan sensualitas
berlebih. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang digelar berupa konser music
dangdut. Di mana di dalamnya sangat sarat akan pengadopsian gerakan-gerakan
tarian jaipong atau banjet yang sudah sedemikian rupa dimodifikasi. Pada
tataran ini unsur mistik dan ritual sudah tidak diindahkan. Bahkan sudah tidak
menjadi prioritas. Tidak ada pakem khusus yang mengendalikan. Perpaduan antara
seni pertunjukan modern dan tradisional begitu luar biasa. Tidak ada batasan
antara pelaku seni dan penikmat seni. Semua terlibat dalam pertunjukan. Semua
bebas mengekspresikan dirinya. Tidak jarang idiom-idiom “nakal” menjadi
penyedap pertunjukan, yang banyak menjadi bagian dalam lirik lagu-lagu dangdut
pop. Tidak cukup sampai di situ. Penyerapan unsur kesenian dandut modern juga
terjadi pada kesenian jaipong. Saling pengaruh dan “memperkaya” ini menjadi
kecenderungan yang tidak bisa dihindari dan tidak terpisahkan dalam kultur
masyarakat kontemporer di Pesisir Utara Jawa Barat, terutama Karawang.
Kondisi
di atas begitu dominan, sehingga menyita pemikiran masyarakat. Paradigma yang
sudah terlanjur jungkir balik ini diperparah lagi dengan cara generasi muda
Karawang dalam mengidentifikasi produk kebudayaan mereka. Sangat jarang pemuda
Karawang dan sekitarnya yang bisa langsung menangkap maksud sesungguhnya dari
istilah “Goyang karawang”. Bahkan mereka langsung mengidentikannya dengan
pemahaman umum yang ada saat ini. Goyang Karawang adalah erotisme rendah dan
sensualitas berlebih dari para pelaku seni di atas panggung pertunjukan. Goyang
Karawang yang sesungguhnya, yaitu suatu semangat dan gairah pembangunan
masyarakat kota melalui stimulus seni tradisional lokal yang dekat dan akrab
dengan keseharian dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi
lokal. Semua pemahaman dasar yang seharusnya diwariskan tersebut kini gagal
diserap. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa masyarakat Karawang
khususnya atau Indonesia umumnya yang lalai terhadap akar budaya lokal.
Permasalahan
tampaknya bagai bergulirnya bola salju yang terus membesar. Kini
kelompok-kelompok pelaku seni tradisional lokal mengalami kondisi yang
memprihatinkan. Paling tidak, itu yang dialami sebagian besar dari para pelaku
kesenian tradisional Karawang. Penurunan intensitas pertunjukan dan
berkurangnya minat masyarakat terhadap pertunjukan ini menjadi faktor utama.
Selain itu sedikitnya kaderisasi menjadi masalah lainnya yang siap menerkam
kesenian seperti Topeng Banjet. Kurang memikatnya kesenian ini di mata generasi
penerus bisa jadi mempengaruhi pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang muncul
pertanyaan apakah masih relevan mempelajari kesenian ini, mengingat publikasi
yang sangat sedikit dan manfaat yang sangat jarang. Dengan kata lain,
sebenarnya para generasi penerus berada pada persilang pemikiran. Mereka
bertanya, beri kami alas an untuk mempelajari kesenian tradisional.
Pemerintah
Karawang jelas seharusnya mengambil peran strategis. Baik sebagai penyangga
kesenian mapun penyandang kesenian. Penyangga, dalam hal ini adalah sebagai
pihak yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan kesenian. Penyandang,
dalam hal ini adalah penyedia fasilitas dan dana yang bisa memberi kemudahan
dalam ruang gerak, akses dan aktivitas para pelaku seni. Pemerintah setempat
juga seharusnya bisa memberikan pencerahan dan publikasi yang memadai tentang
berbagai produk budaya local. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah
mengidentifikasi budaya mereka. Masyarakat juga bisa mengakses informasi resmi
dengan mudah. Sehingga semua berjalan secara simultan.
Masih
belum lengkap kalau belum memasukkan seni hiburan modern. Unsur ini jelas
banyak memberi sumbangan yang bagai pisau bermata dua. Publikasi yang luar
biasa beberapa tahun ini tentang goyang karawang jelas membawa kesenian ini
sebagai fenomena. Sebut saja film layar lebar ARWAH GOYANG KARAWANG. Cerita
dalam film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenian dan
nilai-nilai luhur kebudayaan warisan leluhur Karawang. Sempat menjadi titik
keresahan para pelaku seni Karawang, sehingga menimbulkan protes yang cukup
serius. Tapi film ini tetap mengemuka dan masyarakat tetap menikmatinya sebagai
sebuah pertunjukan film horror-erotis. Belum lagi peranan kelompok-kelompok
seni pertunjukan local yang turut membawa-bawa istilah Goyang Karawang dengan
berbagai variasinya, juga turut memberi sumbangan atas penurunan pemaknaan.
Alhasil
tentu saja penurunan pemaknaan terhadap istilah Goyang Karawang ini tidak bisa
dihindarkan. Paling banter orang akan merapatkan Goyang Karawang dengan susuk,
ritual sesajen dan aktivitas mistis yang tidak ada kaitannya dengan nilai luhur
kesenian lokal sebagai produk budaya dan pemikiran nenek moyang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar