Gunung Padang (ketinggian
885 mdpl) terletak pada koordinat 6°57’ LS – 107°1’ BT, sekitar 50 Km sebelah
Barat Daya Kota Cianjur. Tepatnya di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka,
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak memanjang ke arah Tenggara
Barat Laut pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Ratusan anak
tangga dari batu yang sangat curam dengan tinggi sekitar 75 meter dan
panjangnya lebih kurang 150 meter, memanjang ke atas gunung. Situs ini terdiri
atas lima teras (tingkatan) dan memiliki luas yang berukuran raksasa, jika di
bandingkan dengan situs punden berundak lain di dunia, yaitu 3132,15 m2.
Bangunannya menghadap ke arah jurusan 3350, mulai dari teras pertama hingga
teras kelima. Secara arsitektural ketinggian bangunan meningkat, mulai dari
teras satu ke teras kelima. Gunung Padang termasuk jenis situs Punden Berundak
(Bahasa Jawa punden, berarti terhormat dan berundak, berarti bertingkat).
Menurut para arkeolog,
bangunan berundak yang terdapat di Gunung Padang ini, berasal dari tradisi
megalitik (batu besar). Posisinya yang tinggi menyebabkan kerusakan situs dan
bangunan tidak dapat dihindari lagi. Selama sekian waktu, hujan selalu mengikis
tanah yang lembek. Masyarakat sekitar pun masih belum sadar, hampir selalu
memanfaatkan tanah kosong di lokasi situs. Batu-batu berserakan di atas bukit.
Ada yang berbentuk persegi panjang, ada pula yang tak beraturan. Namun
dibandingkan kebanyakan batu, batu-batu di atas bukit ini memberikan warna
tersendiri. Soalnya kalau dipelajari dengan cermat, batu-batu tersebut bisa
menghasilkan rangkaian kisah sejarah yang menarik. Bisa dibayangkan, bagaimana
masyarakat zaman kuno menyusun batu-batu sedemikian rupa, sehingga membentuk
sebuah bangunan yang dalam arkeologi dikenal dengan nama bangunan berundak.
Untuk menuju ke sana kita
dapat memilih dua rute perjalanan, melalui Pal Dua atau Tegal Sereh. Kalau
menggunakan jalur Pal Dua, kita harus menempuh jalan Cianjur-Sukabumi, kemudian
dari desa Warungkondang membelok ke kanan menuju ke Cipadang – Cibokor –
Lampegan – Pal Dua – Ciwaringin – Cimanggu – Gunung Padang. Rute lain melalui
Cianjur – Sukabumi, selanjutnya dari Sukaraja membelok ke kiri – Cireungas –
Cibanteng – Rawabesar – Sukamukti – Cipanggulaan – Gunung Padang.
Situs ini sebenarnya pernah
di catat oleh N.J. Krom dalam bukunya Rapporten van den Oudhei Kundingen Dients
in Nederlandsch-Indie 1914. Namun tidak dilanjutkan dengan riset mendalam
setelah itu, hingga akhirnya informasi tersebut terlupakan. Dikatakan dalam
Laporan itu, bahwa di puncak gunung, dekat Gunung Melati ada empat teras yang
disusun dari batu kasar, berlantai kasar, dan dihiasi dengan batu-batu andesit
berbentuk tiang yang berdiri tegak. Pada setiap teras terdapat satu bukit kecil
(kuburan), dikelilingi dan ditimbuni batu, juga ditandai dua batu yang lancip.
Selanjutnya, R.P. Soejono
menjadi peneliti Indonesia pertama meneliti situs ini pada 1982. Gunung Padang
baru menarik perhatian media setelah diteliti oleh Tim Bencana Katastrofi
Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan
Bencana, Andi Arief. Ada pun Danny Hilman dan Andang Bachtiar adalah anggota
tim ini. Tim peneliti ini mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di
Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida
di bawahnya.
Situs megalithic ini telah
menyita perhatian peneliti dari berbagai instansi sejak pada tahun 1979 berita
tentang situs Gunung Padang mencuat lagi setelah adanya laporan dari 3 orang
penduduk sekitar Gunung Padang. Mereka adalah Endi, Soma dan Abidin yang telah
melaporkan ke penilik kebudayaan Kecamatan Campaka. Sejak itulah kemudian
berturut-turut dilakukaan pemetaan, penggambaran, dan deskripsi. Baik oleh DP3SP
yang sekarang bernama Direktorat Sejarah dan Purbakala, Pusat Pengembangan
Arkeologi Nasional yang sekarang bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan
Arkeologi Nasional, dan kemudian di lanjutkan oleh Disbudpar Provinsi Jabar
(2001), Balai Arkeologi Bandung (Tahun 2002, 2004, 2005), dan Bandung FE
Institute (2008).
Kepurbakalaan Gunung Padang
termasuk unik dan langka. Dalam arti jarang ditemukan di tempat-tempat lain di
Indonesia.Bangunan-bangunan teras Gunung Padang mempunyai peranan dalam
upacara-upacara tertentu. Di samping itu dengan adanya temuan-temuan seperti
lumpang batu, batu pipisan, dan batu gandik, para ahli lebih yakin bahwa situs
Gunung Padang merupakan bukti kebesaran masyarakat Jawa Barat masa lampau.
Dibandingkan dengan
bangunan-bangunan serupa di tempat lain, situs Gunung Padang termasuk besar.
Teras pertama memiliki ukuran 28-40 meter. Teras-teras selanjutnya: teras
kedua, teras ketiga, teras keempat, dan teras kelima, makin ke atas makin
kecil. Diduga teras kelima yang terletak paling tinggi merupakan teras tersuci,
tempat berlangsungnya upacara-upacara sakral.
Seorang doktor geologi,
Peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of
Mines di Amerika Serikat pada 1991, dari Peneliti Katastrofi Purba, Andang
Bachtiar, menemukan pasir halus dan semen purba di Gunung Padang. Gunung yang
berada di sebuah perbukitan pada ketinggian 900 meter di Cianjur, Jawa Barat.
Andang menemukannya dari pipa-pipa berdiameter 12,5 sentimeter yang dia
lesakkan ke dalam tanah Gunung tersebut. Andang mengambil batu, dan material
lain tersangkut di selongsong pipa dari kedalaman 27 meter. Benda-benda purba
itu seperti siap menjawab teka-teki di perut Gunung Padang. Pasir itu
menurutnya bukan hasil bentukan alam. Sortirannya halus, dengan ukuran sama.
Seperti diayak. Artinya, pasir itu adalah hasil kerja manusia.
Gunung Sadahurip, atau
Gunung Putri di Garut, Jawa Barat. Sadahurip bentuknya sangat simetris, nyaris
seperti piramida. Uniknya, hasil riset geolistrik di Gunung Sadahurip di Garut,
Jawa Barat, menunjukkan struktur serupa dengan Gunung Padang. Ada lapisan batuan
yang bukan buatan alam. Untuk membuktikan hasil geolistrik dan georadar itu,
dilakukan pengeboran di kedua gunung. Sampel pun diambil.
Hasil geolistrik dan
georadar membuat mereka tertegun. Dari hasil foto, dan juga georadar, lapisan
batuan itu penuh anomali. Gunung Padang menjadi proritas. Di gunung ini ada
punden berundak, situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dari hasil
pengeboran, sejumlah sampel tanah dan materi lain kemudian disodet, dan
dimasukkan ke plastik bening, untuk penelitian carbon dating. Batuan di dalam
gunung itu bukan batuan biasa. Hasil pengujian carbon dating, menyatakan
kemungkinan batuan di sana berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi. Bahkan sampai di
kedalaman 25 meter, ini man-made (buatan manusia). Dari sebuah lapisan terletak
di antara susunan batu di dalam gunung itu, memperlihatkan dugaan sudah
dikenalnya teknologi perekat dalam konstruksi bangunan. Ini semacam semen
purba. Menurut Andang , bisa jadi pasir ini adalah teknologi tahan gempa. Ada
siklus bencana di masa lalu yang tidak tercatat prasasti atau catatan kuno, dan
ini menghancurkan suatu peradaban. Perlu dilihat kemajuan teknologi dan budaya,
sehingga tak selalu mulai dari nol. Kearifan dan ilmu dari masa lalu yang
terpendam di gunung itu, itulah harta karun bagi kita
Sudah hampir dua per tiga
bagian Gunung Padang diambil sampelnya. Hasilnya persis seperti uji geolistrik
dan georadar yang dilakukan sebelumnya. Ada semacam struktur bangunan di dalam
gunung itu. Dengan dua per tiga bukit ini buatan manusia, berarti teknologi
konstruksi nenek moyang sudah luar biasa.
Awalnya, soal dugaan
piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah
lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu. Selain
Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon,
Soreang, Bandung, Jawa Barat. (Baca juga SOROT 124 Berburu Piramida Nusantara).
Gunung Padang adalah
‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan
aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, Tim ini ingin melihat adakah
bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung
Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar.
Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang. Mungkin
selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi
di geologi harus dilakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di
permukaan.
Keraguan pun muncul.
Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian
piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence. Bantahan
tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk
piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip adalah gunung
jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan
piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.
Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.
Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.
Tim Bencana Katastrofi
Purba bukanlah mencari piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi
di nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak
peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola
mitigasi bencana dipahami. “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk.
Itu sebabnya, dilakukan
penelisikan dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan
Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat para peneliti
itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles
(1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19, pernah bilang, kerajaan di
Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya.”
Hasil survei georadar,
geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan
besar dan masif. Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan
struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini
merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim
kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan. Sebelumnya, ada dugaan batu
itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt.
Dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar
situs Gunung Padang. Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara
bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan
Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. Ini bukan pelapukan
andesit, tapi semacam semen purba. Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu
menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan
buatan yang materinya adalah pasir. Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas
bukan terbentuk secara alami. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8
hingga 10 meter.
Tim Bencana Katastrofi
Purba kemudian menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa
akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil
pengeboran. Hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang
berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,”
tutur Danny.
Jika hasil carbon dating
itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah
dikenal teknologi bangunan maju di wilayah Nusantara. Ini seperti Machu Picchu,
di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi
Machu Picchu juga berasal dari sini. Machu Picchu diperkirakan berasal dari
abad 14 atau 15.
KOMENTAR PARA AHLI
Ali Akbar (Arkeolog Universitas Indonesia)
“Perlu dilakukan penelitian
lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. Ambil
sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di
titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya
dengan bangunannya. Sebaiknya dicek lagi di teras lain. Model piramida sudah
dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. Tapi bukan seperti di Mesir. Di
sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas. Di Indonesia bentuknya
seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu
yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam.”
Hokky Situngkir (Ahli kompleksitas)
Ada kemungkinan bentuk
piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas dapat ditelisik
keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain. Dari perspektif
Arkeo-Geografi, suatu struktur piramida kecil dapat dicocokkan dengan lanskap
geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat
reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang. Mengenai bentuk piramida,
perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida
(piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung
yang terbentuk secara alami.
Sujatmiko (Geolog)
Pernyataan kalau Gunung
Padang adalah man-made dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga
kedalaman sekitar 25 meter. Ada yang bilang ini gunung purba, tapi tidak ada
intrusi magma. Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. Itu
gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka
ingin di atas. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari
pengalamannya mengamati bentukan gunung. Lagi pula, tak ada temuan piramida di
nusantara selama ini.
Awang Satyana (Geologi)
(Membantah Sujatmiko)
Struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step
pyramid. Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak.
Contohnya, Borobudur yang juga punya struktur piramida.
Stephen Oppenheimer
(Penulis buku Eden in The East, Genetikawan dari Universitas Oxford, Inggris).
Kawasan Nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu. Tapi soal piramida, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu.
Kawasan Nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu. Tapi soal piramida, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu.
MITOS SEKITAR GUNUNG PADANG
Bangunan berundak Gunung
Padang muncul ke pentas prasejarah sekitar tahun 1979. Ketika itu beberapa
penduduk, di antaranya Endi yang sekarang menjadi juru pelihara kepurbakalaan,
sedang mencangkul tanah. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh adanya dinding tinggi
dan susunan batu berbentuk balok. Setelah dilaporkan ke Penilik Kebudayaan kecamatan
Campaka dan Kepala Seksi Kebudayaan kabupaten Cianjur, pihak berwenang ini
meneruskannya ke Pusat.
Menurut legenda atau cerita
rakyat, bangunan berundak di Gunung Padang didirikan oleh Prabu Siliwangi.
Alkisah pada suatu hari. Prabu Siliwangi mendapat titah untuk membangun istana
batu dalam waktu semalam. Sang tokoh pun segera memotong batu-batu besar
mengikuti bentuk balok, bongkahan, dan serpihan. Berkat kesaktiannya, batu-batu
tersebut disusun dan ditata menjadi lantai, anak tangga, gerbang, tembok
keliling, dan dinding.
Namun sang purnama dan sang
bintang tidak mau diajak kompromi. Akibatnya embun pagi mulai menetes. Sang
surya pun mulai bangkit dari ufuk timur. Hari semakin terang. Betapa kecewanya
hati sang prabu. Tak kuasa menahan amarah, ditendangnya bangunan yang hampir
rampung itu. Kemudian ditinggalkannya serakan dan tumpukan batu di atas bukit.
”Bukit inilah yang disebut Gunung Padang. Dalam bahasa Sunda padang berarti
siang,” ujar seorang penutur cerita. Masyarakat pun mempunyai berbagai versi
cerita. Konon setiap batu atau susunan batu mempunyai makna sendiri. Ada yang
dianggap sebagai tongkat Prabu Kiansantang, ada pula yang dianggap masjid atau
harimau.
Endi mengemukakan, teras
kelima itu sering dihubungkan dengan cerita tentang Prabu Siliwangi. Konon
tokoh dari Jawa Barat tersebut dimakamkan di tempat ini. ”Saya sendiri tidak
tahu. Pokoknya sejak kakek bapak, makam itu sudah ada,” cerita Endi. Beberapa
penduduk pun mengatakan, di Gunung Padang ini kadang-kadang terdengar suara
gamelan, orang memainkan wayang, atau suara kecapi. Kejadian ini terutama
berlangsung pada malam Senin dan Rabu.
Lama setelah tulisan Krom,
situs ini tertutup oleh hutan dan semak belukar. Baru beberapa tahun lalu,
setelah terkuak ke permukaan, namanya mulai dikenal kembali oleh para peziarah
atau pencari berkah. Sampai sekarang pada malam-malam tertentu, terutama malam
Senin Kliwon dan Jumat Kliwon, situs Gunung Padang sering didatangi oleh
rombongan seniman seperti pesinden, penari jaipong, dalang, dan penabuh gamelan,
bahkan penyanyi pop. Selain itu pedagang yang ingin cepat maju dan orang yang
ingin punya jodoh pun datang ke sini. Untuk mereka itu ada tempatnya
masing-masing. ”Seniman di sana dan pedagang di situ,” kata Endi (57 tahun)
sambil menunjuk tempat-tempat yang dimaksud.
Di luar cerita-cerita yang
berbau mistik, yang jelas beberapa peneliti prasejarah Indonesia menganggap
peninggalan tradisi megalitik Gunung Padang merupakan data otentik yang sangat
berharga karena masih lengkap. Memang diakui belum ada gambaran secara luas
tentang bangunan berundak itu, terutama menyangkut fungsi dan latar
belakangnya. Krom yang termasuk salah satu peneliti pertama berpendapat, Gunung
Padang merupakan situs penguburan. Sebaliknya beberapa sarjana Indonesia lebih
cenderung menganggapnya sebagai tempat pemujaan.
Haris
Sukendar, peneliti prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam sebuah
laporannya mengatakan bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan yang
cukup penting karena dapat dipergunakan sebagai bahan studi bandingan dalam
penelitian bangunan berundak di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar