Minggu, 21 Desember 2014

FENOMENA MISTERI GUNUNG PADANG


Gunung Padang (ketinggian 885 mdpl) terletak pada koordinat 6°57’ LS – 107°1’ BT, sekitar 50 Km sebelah Barat Daya Kota Cianjur. Tepatnya di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak memanjang ke arah Tenggara Barat Laut pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Ratusan anak tangga dari batu yang sangat curam dengan tinggi sekitar 75 meter dan panjangnya lebih kurang 150 meter, memanjang ke atas gunung. Situs ini terdiri atas lima teras (tingkatan) dan memiliki luas yang berukuran raksasa, jika di bandingkan dengan situs punden berundak lain di dunia, yaitu 3132,15 m2. Bangunannya menghadap ke arah jurusan 3350, mulai dari teras pertama hingga teras kelima. Secara arsitektural ketinggian bangunan meningkat, mulai dari teras satu ke teras kelima. Gunung Padang termasuk jenis situs Punden Berundak (Bahasa Jawa punden, berarti terhormat dan berundak, berarti bertingkat).

Menurut para arkeolog, bangunan berundak yang terdapat di Gunung Padang ini, berasal dari tradisi megalitik (batu besar). Posisinya yang tinggi menyebabkan kerusakan situs dan bangunan tidak dapat dihindari lagi. Selama sekian waktu, hujan selalu mengikis tanah yang lembek. Masyarakat sekitar pun masih belum sadar, hampir selalu memanfaatkan tanah kosong di lokasi situs. Batu-batu berserakan di atas bukit. Ada yang berbentuk persegi panjang, ada pula yang tak beraturan. Namun dibandingkan kebanyakan batu, batu-batu di atas bukit ini memberikan warna tersendiri. Soalnya kalau dipelajari dengan cermat, batu-batu tersebut bisa menghasilkan rangkaian kisah sejarah yang menarik. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat zaman kuno menyusun batu-batu sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah bangunan yang dalam arkeologi dikenal dengan nama bangunan berundak.

Untuk menuju ke sana kita dapat memilih dua rute perjalanan, melalui Pal Dua atau Tegal Sereh. Kalau menggunakan jalur Pal Dua, kita harus menempuh jalan Cianjur-Sukabumi, kemudian dari desa Warungkondang membelok ke kanan menuju ke Cipadang – Cibokor – Lampegan – Pal Dua – Ciwaringin – Cimanggu – Gunung Padang. Rute lain melalui Cianjur – Sukabumi, selanjutnya dari Sukaraja membelok ke kiri – Cireungas – Cibanteng – Rawabesar – Sukamukti – Cipanggulaan – Gunung Padang.

Situs ini sebenarnya pernah di catat oleh N.J. Krom dalam bukunya Rapporten van den Oudhei Kundingen Dients in Nederlandsch-Indie 1914. Namun tidak dilanjutkan dengan riset mendalam setelah itu, hingga akhirnya informasi tersebut terlupakan. Dikatakan dalam Laporan itu, bahwa di puncak gunung, dekat Gunung Melati ada empat teras yang disusun dari batu kasar, berlantai kasar, dan dihiasi dengan batu-batu andesit berbentuk tiang yang berdiri tegak. Pada setiap teras terdapat satu bukit kecil (kuburan), dikelilingi dan ditimbuni batu, juga ditandai dua batu yang lancip.

Selanjutnya, R.P. Soejono menjadi peneliti Indonesia pertama meneliti situs ini pada 1982. Gunung Padang baru menarik perhatian media setelah diteliti oleh Tim Bencana Katastrofi Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief. Ada pun Danny Hilman dan Andang Bachtiar adalah anggota tim ini. Tim peneliti ini mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

Situs megalithic ini telah menyita perhatian peneliti dari berbagai instansi sejak pada tahun 1979 berita tentang situs Gunung Padang mencuat lagi setelah adanya laporan dari 3 orang penduduk sekitar Gunung Padang. Mereka adalah Endi, Soma dan Abidin yang telah melaporkan ke penilik kebudayaan Kecamatan Campaka. Sejak itulah kemudian berturut-turut dilakukaan pemetaan, penggambaran, dan deskripsi. Baik oleh DP3SP yang sekarang bernama Direktorat Sejarah dan Purbakala, Pusat Pengembangan Arkeologi Nasional yang sekarang bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, dan kemudian di lanjutkan oleh Disbudpar Provinsi Jabar (2001), Balai Arkeologi Bandung (Tahun 2002, 2004, 2005), dan Bandung FE Institute (2008).

Kepurbakalaan Gunung Padang termasuk unik dan langka. Dalam arti jarang ditemukan di tempat-tempat lain di Indonesia.Bangunan-bangunan teras Gunung Padang mempunyai peranan dalam upacara-upacara tertentu. Di samping itu dengan adanya temuan-temuan seperti lumpang batu, batu pipisan, dan batu gandik, para ahli lebih yakin bahwa situs Gunung Padang merupakan bukti kebesaran masyarakat Jawa Barat masa lampau.

Dibandingkan dengan bangunan-bangunan serupa di tempat lain, situs Gunung Padang termasuk besar. Teras pertama memiliki ukuran 28-40 meter. Teras-teras selanjutnya: teras kedua, teras ketiga, teras keempat, dan teras kelima, makin ke atas makin kecil. Diduga teras kelima yang terletak paling tinggi merupakan teras tersuci, tempat berlangsungnya upacara-upacara sakral.

Seorang doktor geologi, Peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991, dari Peneliti Katastrofi Purba, Andang Bachtiar, menemukan pasir halus dan semen purba di Gunung Padang. Gunung yang berada di sebuah perbukitan pada ketinggian 900 meter di Cianjur, Jawa Barat. Andang menemukannya dari pipa-pipa berdiameter 12,5 sentimeter yang dia lesakkan ke dalam tanah Gunung tersebut. Andang mengambil batu, dan material lain tersangkut di selongsong pipa dari kedalaman 27 meter. Benda-benda purba itu seperti siap menjawab teka-teki di perut Gunung Padang. Pasir itu menurutnya bukan hasil bentukan alam. Sortirannya halus, dengan ukuran sama. Seperti diayak. Artinya, pasir itu adalah hasil kerja manusia.

Gunung Sadahurip, atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat. Sadahurip bentuknya sangat simetris, nyaris seperti piramida. Uniknya, hasil riset geolistrik di Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, menunjukkan struktur serupa dengan Gunung Padang. Ada lapisan batuan yang bukan buatan alam. Untuk membuktikan hasil geolistrik dan georadar itu, dilakukan pengeboran di kedua gunung. Sampel pun diambil.

Hasil geolistrik dan georadar membuat mereka tertegun. Dari hasil foto, dan juga georadar, lapisan batuan itu penuh anomali. Gunung Padang menjadi proritas. Di gunung ini ada punden berundak, situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dari hasil pengeboran, sejumlah sampel tanah dan materi lain kemudian disodet, dan dimasukkan ke plastik bening, untuk penelitian carbon dating. Batuan di dalam gunung itu bukan batuan biasa. Hasil pengujian carbon dating, menyatakan kemungkinan batuan di sana berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi. Bahkan sampai di kedalaman 25 meter, ini man-made (buatan manusia). Dari sebuah lapisan terletak di antara susunan batu di dalam gunung itu, memperlihatkan dugaan sudah dikenalnya teknologi perekat dalam konstruksi bangunan. Ini semacam semen purba. Menurut Andang , bisa jadi pasir ini adalah teknologi tahan gempa. Ada siklus bencana di masa lalu yang tidak tercatat prasasti atau catatan kuno, dan ini menghancurkan suatu peradaban. Perlu dilihat kemajuan teknologi dan budaya, sehingga tak selalu mulai dari nol. Kearifan dan ilmu dari masa lalu yang terpendam di gunung itu, itulah harta karun bagi kita

Sudah hampir dua per tiga bagian Gunung Padang diambil sampelnya. Hasilnya persis seperti uji geolistrik dan georadar yang dilakukan sebelumnya. Ada semacam struktur bangunan di dalam gunung itu. Dengan dua per tiga bukit ini buatan manusia, berarti teknologi konstruksi nenek moyang sudah luar biasa.

Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu. Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. (Baca juga SOROT 124 Berburu Piramida Nusantara).

Gunung Padang adalah ‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, Tim ini ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang. Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi harus dilakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan.

Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence. Bantahan tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.
Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.

Tim Bencana Katastrofi Purba bukanlah mencari piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami. “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk.

Itu sebabnya, dilakukan penelisikan dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19, pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya.”

Hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif. Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan. Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt. Dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang. Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba. Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter.

Tim Bencana Katastrofi Purba kemudian menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,” tutur Danny.
Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah Nusantara. Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

KOMENTAR PARA AHLI

Ali Akbar (Arkeolog Universitas Indonesia)
“Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya. Sebaiknya dicek lagi di teras lain. Model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas. Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam.”

Hokky Situngkir (Ahli kompleksitas)
Ada kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas dapat ditelisik keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain. Dari perspektif Arkeo-Geografi, suatu struktur piramida kecil dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang. Mengenai bentuk piramida, perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

Sujatmiko (Geolog)
Pernyataan kalau Gunung Padang adalah man-made dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Ada yang bilang ini gunung purba, tapi tidak ada intrusi magma. Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini.

Awang Satyana (Geologi)
(Membantah Sujatmiko) Struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak. Contohnya, Borobudur yang juga punya struktur piramida.

Stephen Oppenheimer (Penulis buku Eden in The East, Genetikawan dari Universitas Oxford, Inggris).
Kawasan Nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu. Tapi soal piramida, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu.

MITOS SEKITAR GUNUNG PADANG
Bangunan berundak Gunung Padang muncul ke pentas prasejarah sekitar tahun 1979. Ketika itu beberapa penduduk, di antaranya Endi yang sekarang menjadi juru pelihara kepurbakalaan, sedang mencangkul tanah. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh adanya dinding tinggi dan susunan batu berbentuk balok. Setelah dilaporkan ke Penilik Kebudayaan kecamatan Campaka dan Kepala Seksi Kebudayaan kabupaten Cianjur, pihak berwenang ini meneruskannya ke Pusat.

Menurut legenda atau cerita rakyat, bangunan berundak di Gunung Padang didirikan oleh Prabu Siliwangi. Alkisah pada suatu hari. Prabu Siliwangi mendapat titah untuk membangun istana batu dalam waktu semalam. Sang tokoh pun segera memotong batu-batu besar mengikuti bentuk balok, bongkahan, dan serpihan. Berkat kesaktiannya, batu-batu tersebut disusun dan ditata menjadi lantai, anak tangga, gerbang, tembok keliling, dan dinding.

Namun sang purnama dan sang bintang tidak mau diajak kompromi. Akibatnya embun pagi mulai menetes. Sang surya pun mulai bangkit dari ufuk timur. Hari semakin terang. Betapa kecewanya hati sang prabu. Tak kuasa menahan amarah, ditendangnya bangunan yang hampir rampung itu. Kemudian ditinggalkannya serakan dan tumpukan batu di atas bukit. ”Bukit inilah yang disebut Gunung Padang. Dalam bahasa Sunda padang berarti siang,” ujar seorang penutur cerita. Masyarakat pun mempunyai berbagai versi cerita. Konon setiap batu atau susunan batu mempunyai makna sendiri. Ada yang dianggap sebagai tongkat Prabu Kiansantang, ada pula yang dianggap masjid atau harimau.

Endi mengemukakan, teras kelima itu sering dihubungkan dengan cerita tentang Prabu Siliwangi. Konon tokoh dari Jawa Barat tersebut dimakamkan di tempat ini. ”Saya sendiri tidak tahu. Pokoknya sejak kakek bapak, makam itu sudah ada,” cerita Endi. Beberapa penduduk pun mengatakan, di Gunung Padang ini kadang-kadang terdengar suara gamelan, orang memainkan wayang, atau suara kecapi. Kejadian ini terutama berlangsung pada malam Senin dan Rabu.

Lama setelah tulisan Krom, situs ini tertutup oleh hutan dan semak belukar. Baru beberapa tahun lalu, setelah terkuak ke permukaan, namanya mulai dikenal kembali oleh para peziarah atau pencari berkah. Sampai sekarang pada malam-malam tertentu, terutama malam Senin Kliwon dan Jumat Kliwon, situs Gunung Padang sering didatangi oleh rombongan seniman seperti pesinden, penari jaipong, dalang, dan penabuh gamelan, bahkan penyanyi pop. Selain itu pedagang yang ingin cepat maju dan orang yang ingin punya jodoh pun datang ke sini. Untuk mereka itu ada tempatnya masing-masing. ”Seniman di sana dan pedagang di situ,” kata Endi (57 tahun) sambil menunjuk tempat-tempat yang dimaksud.

Di luar cerita-cerita yang berbau mistik, yang jelas beberapa peneliti prasejarah Indonesia menganggap peninggalan tradisi megalitik Gunung Padang merupakan data otentik yang sangat berharga karena masih lengkap. Memang diakui belum ada gambaran secara luas tentang bangunan berundak itu, terutama menyangkut fungsi dan latar belakangnya. Krom yang termasuk salah satu peneliti pertama berpendapat, Gunung Padang merupakan situs penguburan. Sebaliknya beberapa sarjana Indonesia lebih cenderung menganggapnya sebagai tempat pemujaan.

Haris Sukendar, peneliti prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam sebuah laporannya mengatakan bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan yang cukup penting karena dapat dipergunakan sebagai bahan studi bandingan dalam penelitian bangunan berundak di Indonesia.

GUNUNG SADAHURIP GARUT, MISTERI PIRAMID



Ini ada coret-coret yg saya racik dari berbagai sumber ttg sebuah gunung di Garut Jawa Barat, yg disinyalir sbg gundukan raksasa yg menyimpan sebuah piramid. Semoga bermanfaat.

Gunung Sadahurip (720 m dpl) terletak di sebelah timur Kampung Cicapar, Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan, sedangkan sebelah barat Kampung Sindanggalih, Desa Sindanggalih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut. Lokasi Gunung yang dekat dengan daerah Wanaraja Garut ini, dapat ditempuh melalui Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut.

Gunung di Garut, Jawa Barat itu bernama Sadahurip. Namun, ada juga orang yang menyebutnya dengan Gunung Putri, Gunung Leutik, atau Gunung Cinta. Sebenarnya namanya Gunung Putri, tapi warga di sini mengenal gunung itu Gunung Sadahurip. Warga semula mengira bentuk lancip di puncak Gunung Sadahurip merupakan ciri khas biasa sebuah gunung. Tetapi, setelah ramai muncul di media atas pernyataan dari Tim Katastropik Purba yang menduga Gunung Sadahurip merupakan piramida terbesar di dunia, kini warga mulai geger. Masyarakat lokal bahkan punya sebutan sendiri: Gunung Keramat. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan tanah di sekitarnya sebagai tempat bercocok tanam untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bentuknya tidak biasa, yaitu berbentuk limas persegi empat. Puncaknya mirip bangunan piramida seperti yang ada di Mesir. Gunung Sadahurip atau Gunung Putri kini menjadi buah bibir, gara-gara Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana menemukan anomali. Diduga ada bangunan piramida buatan manusia di dalamnya. Sebutan "gunung piramida" pun sontak populer. Sejauh ini tidak pernah ditemukan situs sebagai indikator yang dapat membuktikan telah terjadi peradaban manusia di masa lampau.

Yang luar biasa, "piramida Garut" diperkirakan lebih besar dan jauh lebih tua dibanding Piramida Giza di Mesir. Sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi. Dibutuhkan proses eskavasi untuk membuktikan kebenarannya. Disebutkan, Gunung Sadahurip yang menyerupai piramida tersebut sudah dilakukan uji geolistrik dan uji karbon oleh BPPT dan PVMBG. Di dalam bukit diyakini terdapat batuan piramida dengan susunan tanah penutup setebal 5 meter dan tertutup batuan. Batu penyusun didalamnya terlihat berongga, mempunyai 4 sisi dan 4 sudut bujursangkar. Karena mirip piramida, ujung atas gunung sangat lancip.

Gunung Sadahurip pernah diteliti Komunitas Turangga Seta, bersamaan dengan penelitian di Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung. Semula penelitian terkait piramida di Sadahurip sudah sempat dilakukan oleh mereka. Untuk Gunung Lalakon tim sejarah Komunitas Turangga sudah akan mulai gali sambil menunggu izin dari Pemkab Bandung. Sedangkan, Sadahurip mereka lepas karena ada tim dari Staff Khusus Kepresidenan RI yang ingin meneliti lebih lanjut. Dari petunjuk dan koordinat yang dimiliki Komunitas Turangga Seta, diyakini pada perut Gunung Sadahurip terdapat piramida. “Tidak perlu ada penelitian ilmiah juga mereka sudah bisa pastikan Gunung Sadahurip itu piramida. Tapi, mereka disuruh melepasnya. Dengan membuktikan kehadiran piramida di Indonesia, maka dapat mencatat sejarah baru dalam kehidupan. “Adanya piramida di nusantara menunjukkan bangsa Indonesia sebagai awalnya dunia.

Gunung Sadahurip sudah berkali-kali diteliti, namun belum ada paparan terkait hasil penelitian berupa peninggalan bersejarah. Sudah berbagai pihak yang datang untuk meneliti, termasuk dari tim luar negeri. Tapi, belum tahu hasilnya. Penelitian Gunung Sadahurip sudah mulai diteliti sejak tahun 2008. Sekitar sebulan lalu, tim peneliti dari LIPI melakukan penyelidikan selama lima hari namun pihak desa belum mendapatkan hasil laporan dari penelitian tersebut. Tim peneliti dari Jakarta juga sempat datang untuk meneliti lempengan gunung tersebut meski belum diketahui hasilnya. Pada bagian puncak gunung kini terdapat dua lubang tanah menganga kedalaman 2 meter dengan diameter 1,5 meter yang digali oleh para peneliti.

Berlokasi di Kecamatan Sukawening, menyusul postur gunung tersebut menyerupai segitiga maupun Piramid, diteliti LIPI dan ITB sejak 29 Nopember lalu. Sedangkan lama penelitiannya, masih belum terdapat batasannya. Gunung berbentuk Piramid tersebut, diduga sudah ada sejak 2500 SM berketinggian 200 meter. Semua proses ilmiah dan berbagai metode yang dimungkinkan dan disyaratkan telah dilakukan di sana. Termasuk georadar dan geolistrik, juga pengujian dengan carbon dating. Hasilnya, "ini bukan alami, melainkan man made". Menggunakan metode Interferometric Syntetic Aperture Radar (IFSAR), Dihasilkan gambar yang benar-benar telanjang. Bisa dilihat, (dari gambar) yang berwarna kuning adalah batu. Sementara warna biru adalah air. Jika disinari, batu akan memantulkan cahaya. Itulah yang ditangkap IFSAR. Sudah pernah dilakukan penggalian tanah hingga lapisan batuannya, cuma beberapa meter saja. Batu itu yang digunakan untuk tes carbon dating. Yang menarik, dari hasil IFSAR bisa dilihat, tak hanya sekedar bentuk piramid. Di sekelilingnya juga nampak batuan, lebih pendek. Bisa jadi itu piramida yang lebih kecil, atau Spinx seperti yang ada di Mesir. Namun, apa persisnya bentuk bangunan dan peradaban mana yang membangunnya, belum bisa dipastikan. Belum dilakukan eskavasi, kalau sudah, bisa bercerita banyak hal. Soal asal muasal, mengapa ada di situ, dan siapa yang membangunnya. Ada historisnya..

Ada temuan fenomenal di lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk lokal. Kami sedang mencoba membongkar pikiran itu, bisa dirasionalkan. Salah satunya, beberapa waktu lalu di sebuah media televisi, Kepala Desa Sukahurip--tempat gunung berada -- menceritakan, ada banyak kilatan petir dan sinar di sekitar gunung. Itu masuk akal, karena mengambil sampel di Mesir, piramida tak hanya sekedar kuburan Firaun, tapi ada teknologi di dalamnya. Teknologi yang maju -- bahkan untuk ukuran masa kini misalnya, teknologi hidro, pembangkit listrik, dan ada medan magnet. Ada juga literatur yang menyebut piramid dibangun untuk mengantisipasi bah.

Di sekitar gunung tidak pernah ditemukan situs peninggalan bersejarah. Namun di kawasan Gunung tersebut, dipercaya warga terdapat unsur mistis yang kuat, seperti keberadaan makam di sekitar puncak gunung yang dikeramatkan warga terkadang dapat dilihat oleh orang tertentu. “Di sana di gunung itu ada makam tapi seperti yang saya bilang tadi kadang terlihat kadang tidak, hanya bisa dilihat oleh orang tertentu secara kebetulan saja,” katanya. Namun di Desa Sukahurip jauh dari kawasan puncak Gunung Sadahurip, terdapat makam keramat bernama Kiancandra atau sering disebut warga mbah Dalem. Sejarahnya bagaimana tentang makam keramat yang ada di sini, para orang terdahulu tidak mau menjelaskannya, tapi katanya ada sejarahnya tertulis di Pamijahan, Wisata Religi di Kabupaten Tasikmalaya.

Tidak hanya masyarakat yang skeptis terhadap temuan tim. Juga beberapa instansi terkait. Mereka kurang peduli. Antara percaya tidak percaya. Padahal semua metode penelitian sudah dilakukan. Ini temuan yang sangat fenomenal. Harusnya kita sadar dan sangat bangga, ada peradaban besar dan tua yang berada di bumi Nusantara.

KOORDINASI ANTAR-INSTANSI
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut berpendapat, kalau ada situs saja itu bisa dikembangkan tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan situs-situs bersejarah. Apabila ditemukan situs atau peninggalan bersejarah atau benda lainnya yang digunakan orang terdahulu, Disbudpar Kabupaten Garut tentu akan berupaya untuk mengembangkannya. Contohnya seperti menemukan prasasti, batu lumpang atau benda kerajaan tentu daerah tersebut pernah ada kehidupan manusia zaman kerajaan atau zaman prasejarah. Kalau di Gunung Sadahurip itu ditemukan situs atau prasasti atau benda bersejarah lainnya, pasti di sana itu ada unsur budaya. Namun dugaan di Gunung Sadahurip yang dikabarkan oleh peneliti terdapat bangunan mirip Piramida seperti di Mesir, Disbudpar Kabupaten Garut belum mengetahuinya.

Sementara sejumlah tim peneliti yang dikabarkan masyarakat setempat pernah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip, Disbudpar tidak pernah mendapatkan laporan atau koordinasi dalam melakukan penelitian. Tidak ada peneliti khusus yang berkoordinasi dengan Disbudpar. Kalau memang ada dari Arkeolog Bandung itu selalu koordinasi, tapi kalau peneliti lain, Disbudpar tidak tahu. Disbudpar berharap tim peneliti yang sudah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip dan menyatakan ada bangunan piramid yang terkubur di gunung tersebut sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada Disbudpar Kabupaten Garut. Kalangan peneliti maupun arkeolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) termasuk staf akhli Presiden RI, mengaku melayangkan surat kegiatan penelitian Piramida Gunung Sadahurip, mereka juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut.

TERINSPIRASI DARI BOSNIA (?)
Kisah penemuan piramida Garut mirip dengan apa yang terjadi di Bosnia tahun 2005 lalu. Sebuah bukit bernama Visocica di Kota Visoko, barat laut Sarajevo, menjadi fokus perhatian dunia. Adalah Semir Osmanagic, peminat arkeolog sekaligus pebisnis, yang menyadari keanehan bentuk puncak bukit setinggi setinggi 213 meter itu pada April 2005.

Setelah serangkaian penggalian dilakukan, dia mengklaim menemukan sejumlah prasasti misterius yang ditulis pada batu. Lantas, setelah beberapa kali dilakukan penggalian, disimpulkan bahwa piramida yang terdapat di bukit tersebut lebih besar dari Piramida Giza di Mesir.

Klaim penemuan kolosal ini dihujani respon dan jadi kontroversi. Para arkeolog mengritik klaim tersebut. Namun, Osmanagic bertahan dengan pendapatnya. "Mereka hanya cemburu," kata dia kepada situs sains, LiveScience. "Orang-orang kelabakan, karena mereka terlanjur mengajarkan pada murid bahwa Bosnia adalah orang gua (primitif). Kemudian tiba-tiba ada penemuan struktur kompleks di sini." Di tengah pandangan miring para ilmuwan, penggalian terus dilakukan. Perkembangannya bisa dipantau di situs Bosnian Pyramid.

BUKAN BUATAN MANUSIA (?)
Memakai citra kontur Google Map, didapati bentuk dasar gunung berupa bidang segilima tak simetris sehingga luas tiap sisinya tak sama.

Pengamatan dimulai dari kontur elevasi (ketinggian gunung) 1.320 meter dari permukaan laut hingga ke puncak. Bentuk sisi gunung yang tak rata itu juga berpengaruh ke sistem azimut arah mata angin primer yang ditandai 0 atau 360 untuk arah utara, 90 untuk arah timur, 180 di selatan, dan 270 di barat. Sedangkan arah mata angin sekunder berada di antara mata angin primer.

Dari perhitungan mulai dari arah utara kemudian memutar searah jarum jam, tiap sisi Gunung Sadahurip ternyata menghadap ke arah 68, 143, 220, 284, dan arah 344. Walaupun sudah membagi azimut 360 dengan angka 5 sesuai jumlah sisi gunung, selisih sudut tiap sisi tak pas 72 derajat, melainkan beragam antara 60-77 derajat.

Benda langit apa yang dihadapi tiap sisi Gunung Sadahurip menjadi tak jelas. Dari kedua fakta berbeda itu, disimpulkan, jika gunung itu buatan manusia yang membangun piramida, pembuatnya berarti tak paham geometri sehingga gagal merancang dasar piramida yang simetris. Kedua, para pembuatnya tak paham astronomi sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.

SEJUMLAH SANGGAHAN
Beragam pendapat muncul. Kalangan arkeolog dan geolog membantah penemuan tersebut. Kalangan geolog mengatakan bahwa Gunung Sadahurip sejatinya merupakan gunung berapi yang kini sudah mati. Sementara kalangan arkeolog menyatakan bahwa keberadaan piramida tidak mungkin jika tak ditemukan jejak pemukiman di sekitarnya. Di lain pihak, tim penemu tetap yakin bahwa klaimnya adalah benar.

Analisis dari sudut pandang astronomi mengatakan bahwa pembangunan piramida akan selalu menghadap ke titik-titik istimewa di langit. Prinsip ini tidak hanya dianut oleh piramida di Mesir, tetapi juga bangunan mirip piramida yang ada di Indonesia, seperti Candi Borobudur, candi utama di Prambanan hingga candi-candi di Jawa Timur.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mata angin dengan presisi demikian tinggi.

Contohnya, bangunan Piramida Giza selalu menuju ke arah utara, selatan, timur dan barat dengan presisi tinggi. Presisi itu diupayakan agar sisi utara Giza selalu menghadap ke bintang Thuban atau Alpha Draconis, bintang utara kutub utara langit pada 4500 tahun lalu. Bintang tersebut akan tampak dengan magnitud +3,7, cukup redup sebenarnya.

"Sebagai bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno. Sehingga sebuah lorong kecil dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun.

Di dekat bintang Thuban, terdapat bintang Kochab atau beta Ursa Minor. Bintang ini selalu tampak di langit utara seakan-akan berputar mengelilingi Thuban, seolah-olah pasangan setia Thuban. Lorong pun dibangun untuk memungkinkan cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di atas ruang Firaun, khususnya saat bintang berkulminasi atas.

Bangsa Mesir Kuno juga sangat terpesona pada rasi Waluku atau Orion yang dianggap sebagai wujud Osiris. Sebuah lorong pun dibangun agar cahaya dari bintang di rasi Waluku bisa menyinari jasa Firaun. Bintang Sirius, salah satu bintang paling terang, juga dianggap sebagai wujud Isis. Lorong juga dibangun agar cahaya bintang ini menyinari jasad permaisuri.

Jika dilihat bangunan mirip piramida di tanah air, seluruhnya pun menghadap ke arah mata angin. Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mata angin utama dengan presisi mengagumkan. Demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks percandian Prambanan.

Di candi Borobudur, presisi diupayakan sebab selain sebagai bangunan religius, candi juga diupayakan sebagai petunjuk pisisi Matahari dan siklus musim. Hal yang sama juga mungkin berlaku di Prambanan. "Sehingga, dalam perspektif astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit.

Prinsip-prinsip astronomis itulah yang tidak ditemukan di Piramida Sadahurip. Berdasarkan analisis citra Google Earth, Gunung Sadahurip memiliki bentuk dasar segilima tak simetris. Adanya piramida bentuk segilima memang mungkin walaupun belum pernah ditemukan. Meski demikian, segilima yang menjadi dasar bentuk seharusnya juga simetris.

Akibat ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun tidak simetris. Diawali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68, arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat.

Dalam astronomi, arah mata angin dikuantifikasi dalam sudut berjumlah 360 derajat atau lingkaran. Arah utara adalah atau 360 derajat, timur 90 derajat, selatan 180 derajat dan barat 270 derajat. Sadahurip sama sekali tidak menghadap ke sudut itu. Selain itu, akibat tak simetris, selisih antar sudut juga tak sesuai. Jika bentuk dasar segilima, selisih antar sudut seharusnya 72 derajat.

Sisi yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu, yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan satu sisi gunung Sadahurip sekalipun.

Jika Piramida Sadahurip benar, maka ada dua kemungkinan. Pertama, para pembangun piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan candinya. Kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi. Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.


PEMILIK HARI



Kalau hari ini adalah milik mereka yang bersedih, maka kegembiraan adalah senja paling indah dalam hidup ini.

Kalau hari ini adalah milik mereka yang terhina, maka pembelaan dan harga diri adalah harga yang akan melambung tinggi di senja kala para dewa.

Kalau hari ini putus asa adalah milik mereka yang tiada pernah mendapat hasil dalam ikhtiarnya, maka lembayung adalah harapan keindahan bagi segenap pencurahan.



Kalau hari ini adalah akhir dari segala perbudakan, maka menjelang malam, rantai-rantai di kedua kaki penghamba akan tersisa jejaknya saja di gurun kehidupan.

Kalau hari ini mereka yang diberi kesempatan bernyanyi adalah para pelantun kebohongan, maka sesegera mungkin sebelum malam, suara kejujuran paling parau sekalipun akan berhenti bersenandung dan nayaga akan berhenti memainkan gending.

Kalau hari ini hujan masih saja menganak sungai di wajah wanita-wanita yang melahirkan para pendosa, maka akhir tengah malam nanti, hari baru hanya akan diisi oleh para penari pengusir hujan.

Kalau hari ini aku hanya mendapatkan sesuap nasi dari peri kehidupan di mana seharusnya lumbung padi bisa mensejahterakan si miskin dan medermawankan si kaya, maka esok anak-anakku adalah pengembara buta di ladang tandus keyakinan.

Kalau hari ini terliput wanita-wanita peselingkuh dan lelaki-lelaki peselingkuh, maka hanya dalam hitungan jam sesudah para pendusta ini terlelap, runtuhlah madrasah pertama bagi anak-anak sholeh dan sholehah.

Kalau hari ini hanya melahirkan para penghianat baru, maka esok adalah awal dari lahirnya ketidakpercayaan dan pertumbuhan pertama dari kegalauan dari kesetiaan.

                                                                                                                                         Novan N. Bhakti


Sabtu, 20 Desember 2014

KONDISI KOTA SALATIGA PADA MASA PEMERINTAHAN NETHERLAND INDIES CIVIL ADMINISTRATION ( NICA) TAHUN 1947-1950


KONDISI KOTA SALATIGA 
PADA MASA PEMERINTAHAN NETHERLAND INDIES CIVIL ADMINISTRATION
( NICA) TAHUN 1947-1950

A.     Pendahuluan
Tinjauan kesejarahan terhadap suatu peristiwa dalam lingkup spasial kecil, yang merupakan bagian dari lingkup yang lebih besar, begitu menarik dilakukan. Ruang lingkup ini seperti dikatakan Abdullah[1], memberikan padanya patokan-patokan dalam mengatasi daerah penjelajahan dan menentukan fokus perhatian. Maka penentuan ruang lingkup yang terbatas dari studi sejarah bukan saja lebih praktis dan lebih mempunyai kemungkinan untuk diteliti secara empirik, namun juga secara metodologis lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Perhatian terhadap kajian dalam lingkup mikro telah dirintis oleh para antropologiwan sosial dan sosiologiwan pada tahun 1970-an, dan para sejarawan mulai pula memperhatikan apa yang dikenal sebagai ‘sejarah mikro’. Pendekatan mikro telah diangkat oleh Giovanni Levi, seorang sejarawan Italia, pada 1985, dalam studi tentang kota kecil Santena di Piedmont di akhir abad ke-17. Levi menganalisis persidangan atas pendeta paroki setempat, Giovan Batista Chiesa yang dituduh melakukan upacara pengusiran roh dengan metode yang bukan ortodoks.[2]
Berangkat dari berbagai kajian mengenai sejarah semacam itu, maka cukup menarik untuk mengemukakan kajian yang bersifat mikro. Pendekatan, dikatakan Sartono, merupakan masalah inti metodologi. Penggambaran kita mengenai peristiwa sangat tergantung pada pendekatan....[3] usaha penulisan kembali sejarah Indonesia didorong oleh keperluan untuk menjabarkan penulisan sejarah “dari dalam” dengan penulisan sejarah kesatuan-kesatuan sejarah di bawah tingkat nasional. Penelitian sejarah sosial-ekonomis memiliki implikasi bahwa ada equalisation individu-individu yang mendorong pengungkapan peranan “orang kecil” atau “orang kebanyakan” yang hingga kini perannya tidak mendapat tempat dalam sejarah. Untuk mengungkap sejarah dari dalam dengan peran kaum pribumi sebagai dramatis personae diperlukan penyusunan sejarah mikro serta metodologi sosial-saintifik agar terungkap berbagai dimensi serta aspek dari kehidupan kaum pribumi itu.[4] Revolusi Kemerdekaan menggelora di segenap penjuru Indonesia, di mana di setiap daerah nasionalisme dan kebebasan direproduksi dari kancah nasional dan memiliki wujud yang khas. Representasi kedaulatan bernegara bukan hanya sekedar membentuk pemerintahan sendiri dan mengurus diri sendiri, namun, lebih jauh lagi, menemukan hakikat dari kedaulatan itu sendiri, yaitu membangun masyarakat Indonesia yang seutuhnya. Dinamika masyarakat di setiap wilayah, dengan demikian, bukanlah gerak sejarah otonom, namun, seperti dikatakan Abdullah, sebagai “patokan dari sesuatu yang lebih hakiki itu.”[5] Sejarah mikro memiliki tujuan yang secara intelektual lebih ambisius dari sekedar menyelidiki kesulitan masyarakat-masyarakat kecil atau ‘cerita-cerita kepentingan manusia ‘ tentang masa lampau, namun kalau bukan ingin memperlihatkan dunia seukuran sebutir pasir, sejarawan ini pasti ingin mengklaim bahwa mereka dapat menarik kesimpulan umum dari data lokal.[6] Berdasar latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk membahas kondisi kota Salatiga di bawah pemerintahan NICA.
Salatiga adalah sebuah kotamadya di Jawa Tengah yang menjadi kota peristirahatan bagi bangsa kulit putih semasa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.[7] Pada masa VOC, Salatiga dipandang sangat strategis karena berada di jalur utama persimpangan Semarang, Surakarta dan Magelang. Salatiga menjadi tempat pemukiman orang-orang kulit putih karena letaknya dekat dengan perkebunan-perkebunan tempat bangsa Eropa itu bekerja. Kota Salatiga dibentuk pada masa kolonial  Belanda dengan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 25 Juni 1917 No.1 ( Staatsblad 1917 No.266). kota ini resmi didirikan oleh pemerintah Belanda pada tanggal 1 Juli 1917, dengan nama Stads Gemeente Solotigo. Menurut peta kota Salatiga, bentuk Stads Gemeente Solotigo merupakan persegi empat dengan ukuran panjang kurang lebih 4 km, lebar kurang lebih 3 km atau luas keseluruhan kurang lebih 1.200 ha.[8]

B.     Perkembangan Kota Salatiga
Pendirian kota Salatiga dilakukan untuk kepentingan bangsa Belanda. Dalam struktur pemerintahan kota, Dewan Perwakilan Rakyat kota diketuai oleh Assistent Resident Solotigo yang beranggotakan sebelas orang, yang terdiri dari delapan orang bangsa Belanda, dua orang Bumi Putra dan satu orang bangsa asing lainnya. Setelah Gemeente didirikan, maka mulailah kota diperindah, jalan-jalan diaspal, trotoar dan jalan kampung diperkeras dengan tegel-tegel beton, pagar-pagar dirapikan, selokan-selokan dipelihara, halaman rumah ditanami bunga-bungaan, taman sari atau taman bunga dibuat dan di kanan-kiri jalan raya ditanami pohon-pohon yang rindang seperti pohon kenari dan pohon mahoni.[9]
Burgemeester (walikota) dibantu oleh Gemeenteraad (dewan kota) melakukan berbagai pembangunan di Salatiga, serta memperkenalkan berbagai fasilitas umum yang belum ada dan belum pernah dikenal sebelumnya oleh penduduk pribumi. Fasilitas tersebut seperti fasilitas listrik, saluran air, sarana olahraga ( lapangan tennis dan badplaats/ kolam renang), Indische Kerk (Gereja Hindia), Hotel ( Hotel Berg en Dal, Hotel Kalitaman dan Hotel Boomestein), gedung rekreasi, sekolah, pemukiman ( Europeschewijk dan Chinesewijk), kerkhof (pemakaman), pasar, autostandplaats (terminal bus), rumah sakit dan lain-lain.[10]
Salatiga merupakan daerah yang didirikan bagi kepentingan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.[11] Gemeente secara harafiah berarti ”komunitas”, tetapi dalam bahasa awam berarti ”kota praja”. Sekalipun lebih menyuarakan kebijakan persekutuan Politik Etis di mana terlibat rakyat pribumi, namun desentralisasi, dan terutama pembentukan pemerintahan kota praja tergantung kepada pembedaan yang jelas antara orang-orang Indonesia dan Eropa. Pengundangan tersebut secara khusus dirancang untuk melakukan akomodasi dan berlaku bagi orang-orang Eropa dengan memberi kontrol kepada mereka atas komunitas lokal mereka; status khusus yang muncul kemudian untuk menutupi apa yang disebut ”komunitas pribumi” atau inlandse gemeenten, dalam beberapa rincian menegaskan pemisahan secara definitif  antara orang-orang Belanda dan Indonesia di dalam kawasan perkotaan yang sama.[12]
Sejalan dengan perkembangan kota pada awal abad XX kota kolonial merupakan percampuran bentuk-bentuk Barat (Eropa) dengan penduduk setempat, dan menampakkan cirinya sebagai dampak urbanisasi.[13] Kota ini sifatnya sektoral yang secara tidak langsung dicipta oleh pemerintah kolonial, karena pemukiman kota cenderung terkotak-kotak dan terpisah antara  kelompok etnis satu dengan etnis lainnya, sehingga menimbulkan kerenggangan hubungan  antar kelompok. Pemerintah Kolonial, dikatakan Frederick, untuk tidak mengatakan orang Belanda pada umumnya yang tidak menyangkut orang Indonesia sebagai rakyat perkotaan yang menetap lebih suka merasa orang-orang tersebut sebagai rakyat pedesaan dan membiarkan mereka, ketika menjelang awal abad kedua puluh diatur dengan cara seperti itu sekalipun jelas mereka tinggal di kawasan kota.[14] Kepentingan ekonomi merupakan pertimbangan utama terbentuknya kota kolonial. Kota, dengan demikian, dalam konteks ini dikatakan sebagai tempat berlangsungnya berbagai kegiatan ekonomi terkait dengan perdagangan dan aktivitas dagang sebagai basis utama perekonomian kota.[15]
Pembangunan Salatiga yang kian tumbuh menjadi kota kolonial terhenti ketika Jepang menguasai Indonesia, termasuk Salatiga. Fasilitas-fasilitas penting Jepang kuasai, salah satunya adalah sarana transportasi. Salah satu perusahaan transportasi di Salatiga, ESTO (Eerste Salatigasche Transport Onderneming) pernah dirampas Jepang. Sebelum perampasan itu dikatakan oleh Supangkat bahwa menjelang Jepang masuk ke Indonesia, sebagian bus ESTO beserta awaknya diambil tentara Belanda untuk menghadapi Jepang di beberapa front pertempuran.[16]

C.     Pergolakan Revolusi Kemerdekaan Indonesia
Sebagaimana diketahui, pada tanggal 14 Februari 1942 Jepang menyerang Hindia-Belanda. Tanggal 1 Maret dini hari, mereka mendarat di Jawa dan dalam waktu delapan hari, Letnan Jendral Ter Poorten, Panglima Tentara Hindia Belanda (KNIL), menyerah atas nama seluruh angkatan perang sekutu di Jawa. Rakyat percaya bahwa Jepang datang untuk memerdekakan, dan Jepang makin disenangi karena segera mengizinkan dikibarkannya bendera nasional Indonesia merah-putih, dan dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya, dua hal penting yang dilarang oleh Belanda.[17] Dalam waktu enam bulan sejak kedatangannya, Jepang memenjarakan penduduk Belanda, sebagian besar orang Indonesia dan sejumlah orang Kristen Indonesia yang dicurigai pro-Belanda, ke dalam kamp-kamp konsentrasi.
Jepang mulai memanfaatkan nasionalisme Indonesia untuk tujuan pengurasan potensi negeri ini. Demi tujuan perang, Jepang menarik simpati dari para tokoh nasionalis, Seperti Soekarno dan Hatta, dengan menjanjikan kemerdekaan. Poetera (Poesat Tenaga Rakjat) pada 9 Maret 1943 didirikan sebagai organisasi perkumpulan politik. Pada September 1945 dibentuk tentara Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer untuk membantu Jepang membela Indonesia melawan invasi Sekutu. Poetra telah menanamkan mentalitas otoriter yang positif menghargai kekerasan dan aliran anti-Barat. Bagi para pemimpin nasionalis Poetra merupakan sarana penyebaran dan pendayagunaan ide-ide nasionalis di kalangan rakyat dan mengusahakan keterbatasan pasukan di Jawa dan Sumatra membuat dikerahkannya pasukan paramiliter Indonesia yang di Jawa berjumlah 37.000 orang dan di Sumatra 20.000 orang.[18]
 Pada 10 Agustus 1945 gerakan bawah tanah telah mendengar siaran radio bahwa Jepang menyerah kepada sekutu. Sjahrir mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan. Tak yakin akan kabar itu kedua tokoh tersebut, tiba dari Dalat pada 14 Agustus mengetahui permintaan gencatan senjata Jepang. Sjahrir menjamin dukungan gerakan bawah tanah dan PETA bagi mereka. Sjahrir dan kawan-kawannya segera mengorganisir kelompok-kelompok bawah tanah dan pelajar Jakarta untuk mengadakan demonstasi umum dan kerusuhan-kerusuhan militer. Syahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan oleh Sukarno-Hatta tanpa harus menunggu janji Jepang.[19]
Sementara berita kekalahan Jepang disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia, pada 15 Agustus 1945 tentara Amerika Serikat telah menduduki bagian barat laut Irian Jaya dan Pulau Halmahera serta Morotai, sedangkan pasukan Australia menduduki banyak wilayah Indonesia Timur. Pihak Sekutu tak menakhlukkan kembali Indonesia, maka kini terjadi kekosongan politik: pihak Jepang masih tetap berkuasa namun telah menyerah, dan tidak tampak kehadiran pasukan Sekutu yang akan menggantikan mereka.[20] Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, Soekarno membacakan pernyataan kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia telah membawa bangsa ini kepada kebebasannya, namun pada kenyataannya pihak Belanda masih menginginkan penguasaannya kembali terhadap Indonesia, sehingga menimbulkan banyaknya pergolakan dan persengketaan baik politik maupun militer.
Perang Dunia II dimenangkan oleh Sekutu yang tak mengetahui situasi sesungguhnya di Indonesia. Sekutu, dikatakan Ricklefs[21], dengan tergesa-gesa merencanakan kedatangan mereka untuk menerima penyerahan pihak Jepang dan memastikan kembali rezim kolonial. Di luar dugaan, Jepang telah meciptakan kondisi yang begitu kacau, telah begitu mempolitisasi rakyat, dan telah begitu mendorong para pemimpin dari generasi tua maupun muda untuk mengambil prakarsa sedemikian rupa sehingga pihak sekutu menghadapi suatu perang kemerdekaan revolusioner. Kedatangan tentara sekutu ikut diboncengi oleh tentara  NICA. Sementara itu pemerintah Netherland Indies Civil Administration( NICA) yang bermarkas di Australia telah merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia dengan cara mengekor pasukan Amerika Serikat yang akan menduduki bekas Hindia-Belanda.[22]
NICA adalah pemerintah sipil Hindia-Belanda yang bermaksud memerintah kembali Indonesia. NICA dibentuk oleh Van Mook dan Van Der Plas atas persetujuan pemerintah Kerajaan Belanda. NICA secara terang-terangan membantu dan mempersenjatai anggota-anggota KNIL yang baru saja dibebaskan dari tahanan. Tindakan ini segera diikuti oleh perlawanan dari rakyat Indonesia yang terjadi di Surabaya, Ambarawa, Medan dan Bandung. Penyelesaian pertempuran antara Indonesia dan Belanda tertuang dalam Perjanjian Linggarjati tanggal 10 November 1946[23].
Pada tanggal 15 November 1946 perundingan mencapai persetujuan terdiri dari 17 pasal antara lain: Belanda mengakui secara de facto RI atas wilayah Sumatera, Jawa dan Madura; Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama untuk membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat yang salah satu Negara bagiannya adalah Republik Indonesia; Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.[24] Poesponegoro dan Notosusanto mengataan bahwa pihak Belanda dalam Persetujuan Renville pada 8 Desember hanya menyetujui hal-hal yang mengutungkan dirinya. Kecepatan gerakan pasukan Belanda menunjukkan keinginan untuk menduduki daerah seluas mungkin dengan dalih mengadakan operasi-operasi ”pembersihan” berdasarkan kedudukan mereka yang terdepan.[25] Sementara Perundingan Renville berlangsung pihak Belanda berusaha terus untuk membentuk negara-negara boneka.[26] Pada bulan Maret 1948 van Mook mengumumkan pembentukan suatu pemerintahan sementara untuk Indonesia yang berbentuk federal dengan dirinya bertindak sebagai presiden. Pada bulan Juli pihak Belanda membentuk Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federale Overleg) yang terdiri dari para pemimpin negara-negara federal.[27]
Kondisi ekonomi Indonesia kian merosot setelah pada 20 Juli 1947 Belanda melakukan aksi polisionil pertama. Pasukan-pasukan bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten) dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih mengamankan wilayah Semarang. Belanda, dengan demikian, menguasai semua pelabuhan perairan dalam di Jawa. Di Sumatra, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi-instalasi minyak dan batu bara di sekitar Palembang dan Padang, diamankan. Belanda hendak merebut Yogyakarta, ibukota Republik selama Revolusi.[28]
Aksi polisionil Belanda ini membawa Republik pada situasi yang sulit. Sementara itu, dikatakan Kahin[29], keadaan jadi memburuk untuk Republik dan menguntungkan Belanda. Garis van Mook menyingkirkan Republik itu dari wilayah-wilayah pertanian paling subur di Jawa dan Sumatra. Di Jawa situasi amat gawat. Wilayah yang tetap dikuasai Republik merupakan wilayah yang kekurangan pangan dengan produksi beras perkapita 62,6 kuintal dibanding dengan 85,9 kuintal di daerah-daerah yang direbut Belanda. Daerah yang tersisa untuk Republik ini didiami penduduk sejumlah 23 juta orang yang kemudian ditambah dengan lebih dari 700.000 pengungsi dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda.[30]
Pada tanggal 27 Mei 1947, perwakilan Pemerintah Belanda di Indonesia, Komisi-Jendral, menyerahkan suatu ultimatum kepada Sjahrir yang oleh Pemerintah Republik ditafsirkan sebagai pilihan antara kapitulasi Belanda, atau perang mati-matian. Ultimatum ini mengharapkan kedaulatan Belanda secara de jure atas Indonesia hingga tanggal 1 Januari 1949. Sebelum tanggal tersebut, Indonesia akan diperintah oleh suatu pemerintah di mana wakil Mahkota Belanda akan mempunyai kekuasaan untuk penentuan akhir. Secara kategori, Belanda menolak mematuhi ketentuan Persetujuan Linggajati yang berubah-ubah itu, dan Van Mook menjelaskan bahwa dengan tidak menyetujui ultimatum itu dapat berarti perang[31]

D.     Salatiga Selama Revolusi Kemerdekaan Indonesia
Pada tanggal 21 Juli 1947 dua buah pesawat terbang Belanda jenis Mustang yang terkenal dengan sebutan Cocor Merah berpatroli di wilayah udara Salatiga. Beberapa awak pesawat tersebut menembakkan senjata berpeluru kosong. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 dan tidak berulang sesudahnya. Pada tanggal 22 Juli pukul 12.00 dua buah tank dan satu kompi tentara KNIL masuk ke kota Salatiga, namun pada sore harinya mereka kembali ke kamp mereka di Tuntang. Pejuang Salatiga segera bereaksi pada malam harinya dengan mengadakan politik bumi hangus di sekitar Soloscheweg yang memakan korban beberapa rumah warga China, beberapa toko, Gedung Sociteit Harmonie dan Hotel Berg en Dal . Salatiga benar-benar dikuasai Belanda pada tanggal 23 Juli 1947. Sekitar 300 orang China diungsikan dari Salatiga ke Tengaran.[32]

Suatu keunikan terjadi ketika pemerintahan Salatiga di pengungsian kehabisan uang. Untuk mengatasi masalah ini maka pemerintah kota membuat uang sementara berupa potongan kertas yang diberi stempel pemerintahan Kota Salatiga. Maklum, teknologi cetak yang ada pada waktu itu belum canggih seperti sekarang, yang bisa membuat tiruan uang secara persis. Keunikan seperti ini mungkin tidak pernah terjadi di pemerintahan kota mana pun selain Salatiga. Sementara pemerintah Kota Salatiga berada di pengungsian pihak Belanda menyusun sendiri pemerintahan sipil di bawah pimpinan seorang assisten resident. Dengan demikian pada masa tersebut di Salatiga kembali terjadi dualisme pemerintahan. Dualisme pemerintahan seperti ini berlangsung sampai tahun 1950, sampai saat berlangsungnya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Sesudah adanya pengakuan kedaulatan RI maka pemerintahan kota dan masyarakat Salatiga yang berada di pengungsian berangsur-angsur pulang ke Salatiga. Sayang sekali Walikota Soemitro meninggal dalam masa pengungsian. M.S. Handjojo yang pada waktu itu menjadi Patih Semarang tetapi berkedudukan di Salatiga diberi kepercayaan untuk menjadi pejabat sementara walikota Salatiga.[33]

Melihat kondisi beberapa kota di Jawa Tengah, yakni Semarang, Ambarawa dan salatiga yang telah jatuh ke tangan NICA, pada tanggal 29 Juli 1947 Indonesia merespon dengan membombardir ketiga kota tersebut. Sehari sebelumnya, yakni tanggal 28 Juli 1947, empat kadet penerbang diperintahkan menghadap Kasau Komodor Udara Suryadi Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdana Kusuma. Panggilan sangat rahasia ini menyangkut rencana operasi udara yang ditugaskan empat kadet itu untuk menyerang kedudukan Belanda. Kadet-kadet Angkatan Udara Republik Indonesia menggunakan pesawat Churen dan Guntei dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Sutardjo Sigit, Suharmoko Harbani dan Mulyono, dibantu tiga orang teknisi bertindak sebagai penembak udara yaitu Sutardjo, Kaput dan Dulrachman. Pakul 05.00, roda-roda pesawat mulai merayap dan tak lama kemudian, pesawat pertama jenis Guntei lepas landas, diterbangkan oleh Mulyono. Pesawat kedua, sebuah Cureng, menyusul sesaat kemudian, diterbangkan oleh Penerbang Sutardjo Sigit. Yang terakhir lalu menyusul, juga sebuah Cureng, yang diterbangkan oleh Penerbang Suharnoko Harbani. Guntei dan Cureng merupakan pesawat peninggalan Jepang dengan peralatan sederhana. Keduanya tak memiliki lampu dan radio. Ketiga penerbang waktu itu hanya dibekali dengan lampu senter untuk saling member isyarat, dengan cara menyorot pesawat agar diketahui oleh rekannya.[34]
Pesawat yang dikemudikan Suharnoko Harbani dilengkapi senapan mesin dengan penembak udara Kaput. Sedangkan, pesawat Sutardjo Sigit dibekali bom-bom bakar dan penembak udaranya Sutardjo. Kadet penerbang Mulyono diperintahkan menyerang Semarang dengan menggunakan pesawat pengebom tukik “Drive Bomber” Guntei berkekuatan 850 daya kuda. Pesawat berkecepatan jelajah 265 km/jam itu dibebani bom 400 kilogram dan dilengkapi dua senapan mesin di sayap dan satu buah dipasang di belakang penerbang serta sebagai penembak udara Dulrachman. Serangan yang dilancarkan di pagi buta itu, tidak hanya memporakporandakan kubu-kubu pertahanan Belanda, namun lebih dari itu menurunkan mental dan semangat pasukannya. Untuk mengembalikan semangat tempur tersebut, Belanda melancarkan serangan balasan dan tidak mengindahkan aturan perang.[35]
Setelah Persetujuan Renville pada 8 Desember 1947, kondisi Republik semakin gawat. Krisis kabinet terjadi ketika Masyumi, partai terbesar saat itu, mengundurkan diri dari kabinet dan tak lagi mendukung Amir syarifuddin sebagai Perdana Menteri. Amir Syarifuddin kemudian mengundurkan diri, karena hanya mendapat dukungan dari sayap kiri. Presiden Soekarno menunjuk Hatta untuk membentuk kabinet, yang selesai pada 28 Januari 1948. Kabinet Hatta melaksanakan syarat-syarat Persetujuan Renville dan mempercepat pembentukan Republik Indonesia Serikat. Kabinet ini juga melakukan perbaikan kerusakan akibat perang dan pendudukan Jepang dan melakukan rasionalisasi ekonomi dan angkatan perang Republik.
Pengakuan Garis van Mook adalah syarat persetujuan yang paling tidak dapat diterima. Pasukan-pasukan terbaik Republik harus meninggalkan kantung-kantung gerilya yang mereka duduki di balik sisi Garis van Mook dan pindah ke wilayah terkepung yang masih dikuasai Republik[36] (Kahin 2005:294). Anderson mengatakan bahwa kondisi sosial ekonomi di pedalaman Jawa telah demikian memburuk, yang diyakini merupakan akibat dari agresi militer Belanda I pada Juli-Agustus 1947, dan disusul dengan gencatan senjata Renville yang begitu merugikan pada bulan Januari 1948. Kehadiran mereka turut menyedot sumber daya yang sudah sangat terbatas dan sebenarnya telah diperebutkan terlalu banyak orang di wilayah pedalaman ini, dan memperburuk ketegangan kelas dan komunal. Terlebih lagi, kehidupan perdagangan Republik telah mengalami kemandegan karena kekacauan sistem pasar dalam negeri, telah terlepasnya seluruh penguasaan atas seluruh pelabuhan utama, serta masih berlangsungnya blokade laut Belanda. Perkembangan ini secara simultan telah mengakibatkan situasi kekurangan komoditas-komoditas utama untuk jangka waktu lama, dan mengakibatkan inflasi yang gawat di daerah Republik.
Belanda melancarkan aksi polisionil kedua pada 18 Desember 1948, yang oleh Ricklefs[37] disebut sebagai “bencana militer maupun politik bagi mereka walaupun pada saat itu tampaknya mereka memperoleh kemenangan dengan mudah”. Yogyakarta diduduki pada 19 Desember dan para pemimpin Republik membiarkan diri mereka ditangkap serta pasukan Republik mundur ke luar kota-kota dan memulai perang gerilya. Komite jasa-jasa Baik PBB merasa “martabat, wewenang, serta jasa-jasa baik PBB tampakya telah diperlakukan secara tidak pantas oleh Belanda”. DK PBB pula “merasa tersinggung sekali” dan “opini Amerika juga menjadi berang”. PBB menghimbau gencatan senjata pada 31 Desember 1948 di Jawa dan 5 Januari 1949 di Sumatra. Pada 7 Mei disepakati gencatan senjata setelah Soekarno dan Hatta kembali ke Yogyakarta. Akhir Juni pasukan Belanda meninggalkan ibukota Republik.
Setelah dilakanakan Konferensi Negara-negara Federal, yang diselenggarakan di Yogyakarta dan Jakarta, pada Juli terdapat kesamaan kepentingan antara negara-negara federal dengan Republik, dan Soekarno dan Hatta diangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden negara itu dan tentara Republik menjadi inti kekuatan militer bagi Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 23 Agustus-2 November 1949 diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Suatu uni yang longgar antara Negeri Belanda dan RIS disepakati dengan Ratu Belanda sebagai pimpinan simbolis.[38] Berbagai jaminan diberikan kepada investasi-investasi Belanda di Indonesia dan disepakati bahwa akan diadakan konsultasi-konsultasi mengenai beberapa masalah keuangan. Indonesia harus memberi konsesi pada masalah Irian Barat dan utang. Para delegasi Indonesia setuju bahwa negara Indonesia yang baru akan mengambil alih utang yang seluruhnya berjumlah 4.300 juta gulden (hampir 1,130 juta dolar AS) dari Pemerintah Hindia Timur Belanda.[39] Sekitar 70 persen dari jumlah itu adalah utang Pemerintah Kolonial, yang menurut pihak Indonesia 42 persennya merupakan biaya operasi militer dalam menghadapi Republik.
Revolusi Kemerdekaan Indonesia demikian membentuk negeri ini hingga mencapai kapasitas kemerdekaan yang sepenuhnya, yaitu setelah Kabinet Hatta yang memerintah RIS berakhir pada 17 Agustus 1950, setelah pada 19 Mei ditandatangani realisasi pembentukan Negara Kesatuan. Berbagai permasalahan yang menghinggapi negeri ini sejak awal berdiri pada 17 Agustus 1945 begitu pelik karena harus menghadapi serangkaian penentangan oleh Belanda, seperti disampaiakan di atas, sehingga bukan hanya di tingkat pusat permasalahan tersebut terjadi, namun juga di berbagai wilayah bekas jajahan Belanda bernama Hindia Belanda tersebut, selama kurun pendudukan Belanda pasca aksi polisionil Belanda pertama. Kembalinya Republik Indonesia sebagai suatu negara utuh menyebabkan semakin berkurangnya pengaruh Belanda di negeri itu, dan dalam bidang pemerintahan pengaruh tersebut telah tiada, dengan hilangnya kekuasaan Belanda atas daerah-daerah yang dibentuknya selama Revolusi. Salatiga yang pada masa Revolusi berada di bawah kekuasaan NICA, juga telah menemukan kembali bentuk pemerintahannya seperti pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan.

DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Taufik. 2005. ’Di Sekitar Sejarah Lokal Indonesia’, dalam Sejarah Lokal Di Indonesia, Taufik Abdullah (ed). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Anderson, David Charles. 2003. Peristiwa Madiun; Kudeta atau Konflik Internal Tentara? Yogyakarta: Media Presindo.

Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Frederick, William H. 1989. Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). Jakarta: Gramedia.

Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Surakarta: UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.

Kahin, Audrey R dan George McTurnan Kahin. 2001. Subversi sebagai Politik Luar Negeri; Menyingnkap Keterlibatan CIA Di Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

-------------------. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional; Kolonialisme sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Malaka, Tan. 2000. Dari Penjara ke Penjara Jilid Tiga. Yogyakarta: Templok Press.

Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga. 1995. Hari Jadi Kota Salatiga 24 Juli 750 M. Salatiga: Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga

Poesponegoro, Marwati Djoenet dan Nugroho Notosusato. 1984. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta. Balai Pustaka.

Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

-------------------. 2006. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Serambi.

Supangkat, Edi. 2007. Salatiga: Sketsa Kota Lama. Salatiga: Griya Media.

Tirtoprodjo, Susanto. 1966. Sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Jakarta: Pembangunan.

Utami, Shanti Muji. 2000. Pandangan: Sektor-sektor Penting Kehidupan Ekonomi Kota Kolonial dalam Paramita: Jurnal Pengembangan Sejarah No.1. Th.X Januari 2000.

Utomo, Cahyo Budi. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang: Unnes Press.

Wertheim, W.F. 1999. Masyarakat Indonesia dalam Transisi; Studi Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Leksono, Ninok. 2006. Patriotisme Peritis TNI AU dalam Kompas Edisi 21 Juli 2006.



[1] Taufik Abdullah, ’Di Sekitar Sejarah Lokal Indonesia’, dalam Sejarah Lokal Di Indonesia, Taufik Abdullah (ed), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, hal. 10.
[2] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial , Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2003, hal. 55-57.
[3]   Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992, hal. 4.
[4] Ibid, hal. 10.
[5] Abdullah, hal. 5.
[6] Burke, hal. 59.
[7] Tidak seperti kota-kota tua di Indonesia yang ditemukan di daerah pedalaman dan di daerah pantai Jawa serta pulau-pulau besar lainnya, juga di daerah muara sungai-sungai besar, yang semuanya memiliki kesamaan, yaitu bahwa kota-kota itu statis, tidak dinamis, dan terletak berdekatan dengan pusat-pusat pemerintahan para bangsawan yang menawarkan keamanan bagi kota-kota itu. Kota-kota pedalaman tumbuh di sekitar keraton yang ada dan berfungsi sebagai penyedia berbagai barang dan jasa untuk keraton dan pusat-pusat administratif di samping juga menikmati kemegahan melimpah dari istana kerajaan serta sisa-sisa makanan, dari kehidupan mewah istana. Koloni-koloni asing di sekitar pantai juga tidak independen, mencari perlindungan otoritas kerajaan, memiliki atmosfer lebih kosmopolitan di mana pedagang asing dan pengrajin ahli merupakan proporsi penduduk yang besar. Lihat Werheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Studi Perubahan Sosial, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1999, hal. 133.
[8] Handjohojo, 1978, dalam Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga, Hari Jadi Kota Salatiga 24 Juli 750 M, Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga, Salatiga, 1995, hal. 30.
[9]  Ibid
[10] Edi Supangkat, Salatiga: Sketsa Kota Lama, Griya Media, Salatiga, 2007, hal. 17-41.
[11] Kota-kota Indonesia, memasuki abad XX, tidak terlepas dari perkembangan ekonomi kapitalistis. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional; Kolonialisme sampai Nasionalisme Jilid 2, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999, hal. 22. Kurang lebih tahun 1870 Belanda memasuki kapitalisme modern. Hasil Revolusi Industri selama masa dua pluluh tahun sebelumnya terwujud dalam perkembangan industri, perkapalan, perbankan, dan komunikasi modern.... Sebagian besar perkebunan besar yang didirikan tahun 1870 merupakan obyek-obyek penanaman modal..., terutama modal uang..., dengan mudah mendapat tempat di Hindia Belanda yang sejak zaman Cultuurstelsel mengusahakan hasil-hasil bumi untuk pasaran dunia. Wertheim, hal. 138. Sistem perusahaan bebas, yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak tahun 1870, mempunyai arti penting yang besar dalam bidang pembangunan perkotaan. Hal tersebut hanya dalam pengertian meningkatkan perdagangan dan meningkatkan industri pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga menyebabkan kenaikan cepat pada populasi perkotaan, tetapi juga inisiatif individual yang tidak terkendali, yang tampak jelas dalam luasnya skala perluasan kota.
[12] William H. Frederick, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). Gramedia, Jakarta, 1989, hal. 3.
[13] Burn, 1983, dalam Santi Muji Utami, Pandangan: Sektor-sektor Penting Kehidupan Ekonomi Kota Kolonial, dalam Paramita: Jurnal Pengembangan Sejarah No. 1. Th. X, Januari 2000, hal. 37.
[14] Op Cit.
[15] Op Cit.
[16]    Supangat, hal 52.
[17] George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Di Indonesia, Pustaka Sinar   Harapan, Solo, 1995, 130.
[18]Audrey R. Kahin dan George Mc.Turnan Kahin, Subversi sebagai Politik Luar Negeri; Menyingkap Keterlibatan CIA Di Indonesia, Grafiti, Jakarta, 2001, hal. 29.
[19]Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan, Universitas Negeri Semarang Press, Semarang, 1995, hal. 213.
[20]M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1999, hal. 426.
    [21] Ibid, hal. 427.
    [22] Utomo, hal. 210-211.
    [23] Susanto Tirtoprodjo, Sejarah Revolusi Nasional Indonesia, Pembangunan, Jakarta,  1966, hal. 23-24. Naskah Persetujuan Linggarjati ditentang hebat, baik di Parlemen Belanda maupun Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Parlemen Belanda terutama menentang kemungkinan uni menjadi ”superstaat”, sehingga Nederland tidak lagi berdaulat penuh. Oposisi ini diatasi oleh Menteri Seberang Lautan Jonkman yang menjelaskan bahwa uni bukan ”superstaat”, karena yang dimaksudkan bukan unie riil tetapi uni personil (bersifat longgar) dan Naskah disahkan pada 20 Desember 1946. oposisi KNIP menentang Raja Belanda sebagai Kepala Uni, namun KNIP mengesahkan Naskah pada 25 Desember 1946 setelah Soekarno dan Hatta mengancam akan meletakkan jabatan sebagai presiden dan wakil presiden apabila Naskah ditolak.
[24] Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Bagian Tiga, Templok Press, Yogyakarta, 2000, hal. 253. Walaupun perjanjian tadi dipandang dari sudut kemerdekaan, yang diproklamirkan pada 17 Agustus itu adalah suatu kemunduran, bahwa satu penghianatan diplomasi, tetapi tiadalah pula dapat disangkal keberaniannya pihak para diplomat Indonesia, terutama dalam waktu penandatanganan, yang menganggap perjanjian Linggarjati itu sebagai ”batu loncatan”, ”andem pauze”....
[25]Marwati Djoenet Poesponegoro dan Nugroho Notosusato, Sejarah Nasional Indonesia IV, Balai Pustaka, 1984, hal 142.
[26]Ricklefs, hal. 338. pada bulan Desember 1947 mereka membentuk Negara Sumatra Timur, pada bulan Februari 1948 Negara Madura dan Negara Jawa Barat yang dinamakan Pasundan, pada bulan September 1948 Negara Sumatra Selatan, pada bulan November 1948 Negara Jawa Timur dan begitu seterusnya sampai terdapat 15 negara federal di seluruh wilayah yang berhasil mereka rebut.
[27]Ibid, hal. 139.
[28] Op Cit, hal. 453.
[29] Kahin, hal. 279.
[30] David Charles Anderson, Peristiwa Madiun; Kudeta atau Konflik Internal Tentara?, Media Presindo, Yogyakarta, 2003, hal. 10.
[31] Op Cit, hal. 260-261.
[32] Supangat, hal. 41.
[33] Ibid, hal. 42.
[34] Ninok Leksono, Patriotisme Perintis TNI AU, dalam Kompas edisi 28 Juli 2006.
[35] Ibid.
[36] Kahin, 294.
[37] Ricklefs, hal. 462.
[38] Ibid, hal. 466.
[39] Kahin, 562